“Mas, aku ingin berpisah secara sederhana.”
Perempuan itu berkata setelah suaminya membaca lima headline koran, di minggu pagi ketika matahari masih terhalang gedung tinggi tetangga mereka.
Sang lelaki melepas kacamatanya, meletakkan koran dan memandang isterinya yang berdiri berjarakkan meja mahoni. Tetapi matanya langsung menatap foto di dinding tepat di belakang si perempuan. Satu foto ukuran 20 R di hari pernikahan mereka, satu foto di sebelahnya ada tambahan tiga junior, semua perempuan, yang baru diambil dari studio foto sebulan yang lalu.
“Kau lebih cantik dibandingkan dengan foto pernikahan kita,” katanya pelan.
Perempuan itu sekuat tenaga menahan senyum. Ia berpakaian yang terbaik untuk pernikahan dan memakai yang lebih baik ketika perpisahan. Sebuah balutan warna ungu muda berenda karya desainer ternama limited edition yang khusus dirancang untuk momen spesial.
“Anak-anak sudah siap,” perempuan itu berkata.
Sang lelaki menatap tiga perempuan kecil tak jauh dari mereka. Yang paling tua baru kelas empat SD, adiknya kelas dua dan si bungsu baru TK. Semuanya berbaris rapi, berbusana terbaik, tangan ngapurancang, dan menampilkan senyum terbaik.
“Mobil juga,” kata si lelaki menimpali. Ia sudah melihat sedari tadi sopir mereka berdiri di samping mobil camry, hadiah ulang tahun untuk sang isteri ketika melahirkan si bungsu. Semua kopor sudah disimpan di bagasi oleh sopirnya.
“Berdasarkan perjanjian, kau boleh mengunjungi anak-anak sebulan sekali.”
Sang suami menghela nafas. “Tidak ada yang tertinggal?”
“Tidak, aku sudah memeriksa tiga kali.”
“Jadi…”
“Aku meminta maaf, ini harus kita hadapi, tetapi kita akan menjalaninya dengan tenang, seperti bertahun-tahun kita menghadapi badai rumah tangga, membesarkan…”
“Sssstt…” Si lelaki menempelkan telunjuk di bibirnya. “Tak perlu kau katakan lagi, kau sudah tahu semuanya, kecuali satu…”
Kalimat sang suami menggantung. Ia bangkit dan menghampiri isterinya. Ia genggam kedua bahu perempuan itu sejenak. Lalu beralih kepada tiga bidadari kecilnya. Masing-masing usapan di kedua belah pipi. Lalu ia memandang seluruh ruangan yang mereka bangun bersama-sama dan berhenti pada kedua foto itu.
“Aku yang pergi. Tidak pantas seorang perempuan meninggalkan tempat tinggalnya. Tidak layak anak-anak terlunta-lunta. Dan kedua foto itu, sebaiknya kau ganti. Tidak baik untuk suami barumu, kurang elok untuk anak-anakmu.”
Lelaki itu mengucapkan dialognya seperti sudah menghapal skenario sinetron. Tapi ini bukan sinetron. Ia keluar dan menutup pintu. Ia mengucapkan sesuatu pada sopirnya dan menepuk-nepuk pundaknya. Lantas ia menghirup udara sebanyak-banyaknya seakan-akan ingin memenuhi paru-parunya dengan aroma rumah yang sudah sekian tahun ditempatinya.
“Kau lelaki, kau hanya perlu pohon tinggi untuk membuat sarang baru,” bisiknya sebelum melangkah. Matahari mengiringinya hingga bayangannya hilang sempurna dari keluarganya.
Ditulis oleh Nurum Mukharum 