Happy 12 12 12

Sekarang tanggal ajaib: 12 12 12 alias 12 Desember 2012

Ajaib karena seumur hidup kita hanya berjumpa sekali di tanggal ini

(seperti yg laen juga wkwkwk…)

Ajaib cuma gara-gara angkanya sama

ajaib juga misalnya 10-11-12 udah lewat

ajaib juga 8-10-12

ajaib juga 14-13-12 eh ga ada ding

wkwkwk

saya coba-coba ganti tampilan etelah tiga tahun

ternyata gagap­čśÇ

Akhirnya…

Alhamdulillah

akhirnya ketemu juga password akun blog ini

setelah dua abad lamanya, hahaha…

sampai jumpa lagi

mudah-mudahan ga dibanned kayak blogku satunya lagi

Blog yang Terabaikan

Hufff…
lima bulan ga nulis…
sori blog, I miss you!

Dialog

“Mas, aku ingin berpisah secara sederhana.”

´╗┐Perempuan itu berkata setelah suaminya membaca lima headline koran, di minggu pagi ketika matahari masih terhalang gedung tinggi tetangga mereka.

Sang lelaki melepas kacamatanya, meletakkan koran dan memandang isterinya yang berdiri berjarakkan meja mahoni. Tetapi matanya langsung menatap foto di dinding tepat di belakang si perempuan. Satu foto ukuran 20 R di hari pernikahan mereka, satu foto di sebelahnya ada tambahan tiga junior, semua perempuan, yang baru diambil dari studio foto sebulan yang lalu.

“Kau lebih cantik dibandingkan dengan foto pernikahan kita,” katanya pelan.

Perempuan itu sekuat tenaga menahan senyum. Ia berpakaian yang terbaik untuk pernikahan dan memakai yang lebih baik ketika perpisahan. Sebuah balutan warna ungu muda berenda karya desainer ternama limited edition yang khusus dirancang untuk momen spesial.

“Anak-anak sudah siap,” perempuan itu berkata.

Sang lelaki menatap tiga perempuan kecil tak jauh dari mereka. Yang paling tua baru kelas empat SD, adiknya kelas dua dan si bungsu baru TK. Semuanya berbaris rapi, berbusana terbaik, tangan ngapurancang, dan menampilkan senyum terbaik.

“Mobil juga,” kata si lelaki menimpali. Ia sudah melihat sedari tadi sopir mereka berdiri di samping mobil camry, hadiah ulang tahun untuk sang isteri ketika melahirkan si bungsu. Semua kopor sudah disimpan di bagasi oleh sopirnya.

“Berdasarkan perjanjian, kau boleh mengunjungi anak-anak sebulan sekali.”

Sang suami menghela nafas. “Tidak ada yang tertinggal?”

“Tidak, aku sudah memeriksa tiga kali.”

“Jadi…”

“Aku meminta maaf, ini harus kita hadapi, tetapi kita akan menjalaninya dengan tenang, seperti bertahun-tahun kita menghadapi badai rumah tangga, membesarkan…”

“Sssstt…” Si lelaki menempelkan telunjuk di bibirnya. “Tak perlu kau katakan lagi, kau sudah tahu semuanya, kecuali satu…”

Kalimat sang suami menggantung. Ia bangkit dan menghampiri isterinya. Ia genggam kedua bahu perempuan itu sejenak. Lalu beralih kepada tiga bidadari kecilnya. Masing-masing usapan di kedua belah pipi. Lalu ia memandang seluruh ruangan yang mereka bangun bersama-sama dan berhenti pada kedua foto itu.

“Aku yang pergi. Tidak pantas seorang perempuan meninggalkan tempat tinggalnya. Tidak layak anak-anak terlunta-lunta. Dan kedua foto itu, sebaiknya kau ganti. Tidak baik untuk suami barumu, kurang elok untuk anak-anakmu.”

Lelaki itu mengucapkan dialognya seperti sudah menghapal skenario sinetron. Tapi ini bukan sinetron. Ia keluar dan menutup pintu. Ia mengucapkan sesuatu pada sopirnya dan menepuk-nepuk pundaknya. Lantas ia menghirup udara sebanyak-banyaknya seakan-akan ingin memenuhi paru-parunya dengan aroma rumah yang sudah sekian tahun ditempatinya.

“Kau lelaki, kau hanya perlu pohon tinggi untuk membuat sarang baru,” bisiknya sebelum melangkah. Matahari mengiringinya hingga bayangannya hilang sempurna dari keluarganya.

Monolog

Baiklah, kita berdamai saja.
Lho, memangnya kapan kita bertengkar?
Kamu lupa atau bego?
Tidak, aku tidak ingat.
Kita bertengkar hampir setiap hari, setiap ada masalah, setiap ada kejadian, ketika harus menyikapi sesuatu, ketika harus mengambil keputusan.
Aku tidak merasa pernah melakukannya.
Ayolah, bagaimana kita menyelesaikan masalah bila kau tidak mengakui adanya?
Oke, beri contoh satu saja kejadian ketika kita bertengkar.
Mudah saja dan terjadi saat ini juga. Yaitu: apakah kau harus menuliskan hal ini? Kita bertengkar untuk beberapa hal: apakah menuliskannya, apa saja yang harus ditulis, bagaimana bentuknya dan kapan kita publikasikan. Kau akui?
Ingatanku sangat pendek. Katakan padaku, bagaimana persisnya kalimat yang kita lontarkan?
Kau bilang “jangan tulis”, aku bilang “tulis”. Kau bilang “tulis saja sebuah esai”, aku bilang “tulislah dengan hatimu”. Kau bilang “sepuluh tahun lagi”, aku bilang “sekarang juga”.
Benar kita berdialog seperti itu?
Sejauh yang aku ingat.
Lalu siapa yang menang?
Maka dari itu aku mengajakmu berdamai, sehingga kita berdua menang, tidak ada yang kalah.
Tetapi dua pendapat tersebut jauh berbeda. Soal waktu saja, kalau diambil tengah-tengahnya berarti lima tahun!
Aku tidak bilang ambil tengahnya, aku bilang berdamai.
Jadi katakan apa maksudmu dengan berdamai.
Mudah saja, suatu saat kita memakai pendapatmu sepenuhnya, saat lain memakai pendapatku seluruhnya dan saat lain lagi pendapat yang bukan pendapat kita, atau variasi pendapat kita atau variasi pendapat yang bukan pendapat kita.
Tetapi kita perlu merundingkan kapan saat itu dan pendapat siapa yang harus dipakai.
Kita perlu membuat skor dan nilai.
Wah,apakah harus senjlimet itu?
Kalau tidak kita sepakati, kita akan terjebak lagi pada persoalan sama.
Baiklah, skor seperti apa yang kau maksud?
Ada yang kuat, sedang dan lemah. Ada yang sangat penting, cukup penting dan tidak penting.
Aku tidak mengira persoalannya serumit ini.
Jangan khawatir, kita sedang menguraikannya bukan?
Dan sepertinya akan berlangsung lama.
Mungkin selamanya. Tetapi pertama-tama, kita harus sepakati dulu satu hal.
Apa itu?
Kita mulai dengan tos gelas kopi kita.
Dan baca bismillah.
Setuju.

Indonesia Java International Destination – Download Free Ebook

Indonesia Java International Destination – Download Free Ebook 24 pages Click Here.

Maaf

Maaf, saya sedang bingung

maaf, saya lagi bingung

maaf, saya lagi tidak mudeng

maaf, saya lagi nggak ngeh

maaf, ana laa afham

maaf, sori, excuse me…