Beranda » fiksi » Tamu Dini Hari

Tamu Dini Hari

Perhitunganku meleset. Baru saja kami turun setelah masuk melalui genteng dan merusak eternit di kamar belakang tempat menyimpan barang-barang bekas, terdengar suara klakson dari halaman. Kami berpandangan.
“Seharusnya hanya ada seorang perempuan di rumah ini,” bisikku di dekat telinganya.
Kami lalu mendekam di belakang pintu kamar dan menempelkan telinga pada lantai. Logam beradu, suara mesin mobil yang halus makin mendekat, mengeluarkan suara gas terakhir sebelum berhenti. Logam-logam kembali menjerit, lalu langkah-langkah pelan, pelan, amat pelan. Telinga kami sudah terlatih di kegelapan dan keheningan.
Roni Gesit menunjukkan tiga jari kanannya. Artinya, ada dua orang yang baru datang, sebab seorang lagi tentu ibu setengah tuli pembantu rumah tangga keluarga Haji Amin ini.
Beberapa menit berlalu, suara pintu dibuka, aku bayangkan begitu, dan suara-suara agak gaduh, mungkin acara televisi di jam dua malam ini. Dalam waktu agak lama hanya itu yang terdengar. Kami kembali berpandangan.
Aku menepuk bahu Roges, panggilan akrabnya dan memberi isyarat untuk pergi.
Ia menggeleng. “Kita sudah ada didalam dan tidak ada target sebagus ini,” tolaknya halus.
“Kita bisa mencobanya lain kali.”
“Tidak, mereka hanya berdua dan aku sanggup mengatasi.”
“Jangan, kita tidak perlu melukai orang.”
“Hanya bikin pingsan, itupun kalau kepepet.”
Kami ada di lantai dua. Ada empat kamar tidur di sini, yang cukup luas. Di lantai bawah ada dua kamar tidur, satu kamar kerja, satu ruang tamu dan ruang keluarga yang besar serta kamar pembantu. Ada lagi ruang kecil di lantai tiga tempat menjemur pakaian. Target kami adalah kamar kerja Haji Amin dan isterinya di lantai satu, lemari tempat ia menyimpan sekotak perhiasan, sejumlah uang tunai, dan surat-surat tanah.
“Oke,” bisikku, “kita lihat situasi dulu.” Ia menggangguk. Aku lalu mengeluarkan kawat baja, kumasukkan ke dalam lubang kunci. Dalam dua puluh detik aku berhasil membuka pintu. Cahaya ruangan remang-remang, malas menyeruak menerpa wajah kami yang tertutup topeng dan terbalut pakaian hitam-hitam. Mereka masih di lantai satu.
Empat ruang utama lantai dua berada di pinggir, dibatasi dua meter teras dengan atap yang bersatu dengan lantai bawah. Sebuah lampu kristal besar bertengger di ruang tengah. Dengan bertiarap aku mengintip lantai bawah, televisi di kamar tamu menyala, diterangi cahaya lampu seadanya, lampu utama tidak mereka nyalakan. Aku melihat dua kaki dari lutut ke bawah, selebihnya tertutup bufet. Untuk melihat lebih jelas aku harus menggeser posisi tapi risiko ketahuan lebih tinggi.
Seseorang muncul dari sisi lain. Haji Amin. Ternyata ia tidak jadi ke Surabaya, seperti yang selalu ia lakukan di malam Senin ini. Bi Tina menyusul membawa nampan berisi dua gelas minuman dan beberapa keler kue. Langkahnya agak pelan. Ia tidak berubah, agak jangkung dan bermukena, mungkin baru saja menyelesaikan tahajudnya, sesuatu yang jarang ditinggalkan sepanjang ingatanku sejak aku mengenalnya.
Aku pernah tinggal dua bulan di rumah ini, kamarku di belakang disamping taman. Pekerjaanku sopir pibadi tuan rumah, seorang pemilik perkebunan karet, kopi, cengkeh, dan tanaman hias. Tanahnya tersebar di Lembang, Pengalengan, Bogor, Tasik, Garut, dan daerah Tegal. Konon lebih dari dua ratus hektar. Ia mungkin termasuk sepuluh orang terkaya di Bandung.
Haji Amin mempunyai empat anak. Si sulung Antok sudah satu tahun tinggal di Boston, kuliah di jurusan manajemen bisnis. Yang kedua perempuan, mahasiswi teknik sipil di ITB. Yang ketiga lelaki kelas tiga SMA dan si bungsu cewek manis kelas dua SMP. Rumah ini rumah utama tapi ia hanya 2-3 hari disini, selebihnya selalu pergi mengurusi bisnisnya.
Sejak mengenal keluarga ini sebetulnya aku maju mundur untuk menjadikannya target operasi. Mereka orang baik-baik. Tuan tanah itu memperlakukan aku dengan manusiawi, memberi gaji tepat waktu, memberi bonus bila membawanya keluar kota, memuji ketika aku bisa memperbaiki mobilnya. Ia akrab dengan warga sekitar, sering shalat di masjid kampung, sering memberi sedekah dan donatur tetap beberapa beberapa rumah yatim.
Tetapi kekagumanku hanya sedikit mengurangi kebencian dan dendam. Ia pasti melakukannya sekadar manis mulut agar dianggap orang dermawan, biar dianggap pemurah dan pada akhirnya pamor yang baik di masyarakat. Dan yang lebih penting mungkin agar hartanya tidak diganggu oleh perampok dan pencuri.
Peristiwa lima tahun yang lalu masih membekas dalam ingatanku. Ia mengambil alih dua hektar kebun ayah di Lembang. Ia membelinya memang, tapi jauh di bawah harga pasar dan di saat kami tidak mempunyai harta lain yang bisa dijual untuk mengobati luka parah ayah akibat ditabrak oleh seorang pengendara mobil yang ugal-ugalan. Pengemudi kijang tersebut langsung tancap gas begitu ayah terjungkal. Untung ada tukang nasi goreng yang mau membantunya di malam sehabis hujan itu.
Aku hanya sempat mengurusnya selama dua hari karena pada hari ketiga aku harus terbang ke Arab untuk menjalani kontrak selama tiga tahun sebagai sopir. Gajiku selama dua tahun pertama ludes untuk membiayai luka ayah dan membayar utang. Sekembalinya dari Arab, aku mencari sopir sialan itu dan ternyata ia anak sulung Haji Amin yang kini kuliah di Boston.
Lalu aku melamar menjadi sopirnya, tinggal di rumahnya, mempelajari kebiasaannya, mengamati seluk beluk istananya, sekaligus mempersiapkan rencana operasi plus alternatif pelariannya.
Ternyata Haji Amin termasuk orang kaya ceroboh atau terlalu percaya diri. Ia tidak punya anjing herder yang hitam dan besar, tidak mempekerjakan seorang satpam atau centeng pribadi, tidak melingkari rumahnya dengan kawat listrik. Ia hanya membangun tembok setinggi tiga meter yang mudah dinaiki siapapun melalui dahan-dahan pohon di dekatnya. Jendela dan atapnya tidak ubahnya rumah warga lain, dalam waktu sepuluh detik aku dapat melepaskan sekrupnya, mencopot kaca nakonya dan masuk seperti kucing. Aku juga bisa membuka beberapa buah genteng, turun di loteng lantai dua. Juga bisa melalui ruang jemuran dan memotong slot besi penyangga pintu kecil. Jalan keluarnya bisa lewat lubang yang sama, lalu menelusuri sisi tembok belakang rumah berhenti pada pohon ketiga di sisi utara, dan tiba di sebuah gang sempit di samping sebuah kuburan tua. Berjalan kira-kira seratus meter sampai di jalan beraspal, akhirnya ke jalan raya.
Setelah mantap dengan skenario itu aku keluar dan mengontak Roges, sahabatku sejak kecil. Aku tidak pede melakukan pekerjaan itu sendirian.
“Haji Amin?” ia bertanya waktu itu meyakinkan diri. Ia adalah pencuri profesional yang mengkhususkan diri pada orang-orang kaya ‘nakal’. Ia beberapa keluar masuk penjara, tetapi tidak pernah jera, belum. “Jangan, ia kaya memang, tapi bayar zakatnya tidak pernah telat, sedekahnya selalu berlimpah. Ia bukan orang yang kita cari.”
“Anaknya menabrak ayahku dan untuk biaya pengobatan kami menjual kebun padanya separoh harga,” aku menjelaskan.
“Kalau begitu beli lagi saja tanahmu, habis perkara,” katanya lagi.
“Kalau bisa semudah itu aku sudah melakukannya dari dulu.”
“Lalu?”
“Aku ingin memberinya pelajaran, bahwa tidak semua yang ia inginkan bisa ia dapatkan.”
Meski masih muda, Roges sudah menduda. Istrinya dicerai karena ingin kawin dengan orang yang lebih kaya. Kalau ia mau ia bisa kawin lagi. Badannya tinggi besar, kekar berotot. Wajahnya tampan sedikit garang.
“Baiklah, tapi bagianku enam puluh persen,” katanya sedikit enggan. Aku tersenyum gembira.
***
Roni Gesit menepuk bahuku dan memberi isyarat bahwa ia akan membekap pembantu rumah tangga itu. Ia harus melakukan hal itu dalam seratus detik; membekap mulutnya, memberi satu pukulan yang membuatnya pingsan, mengikat kaki tangan dan mulut serta menutup matanya dengan kain hitam. Semua harus dilakukan dalam diam. Bila menimbulkan gaduh dan tuan rumah datang, giliranku untuk menyergapnya dari belakang dan melakukan hal yang sama dalam kecepatan yang sama. Bila tamunya ikut-ikutan, Roni sudah harus selesai dengan urusannya dan akan melumpuhkan tamu sial itu.
Aku berbisik, “Jangan lukai perempuan itu, ia orang baik-baik.”
Roni dengan perlahan menuruni tangga tanpa suara. Setengah menit kemudian aku mengikutinya turun menuju ruang tamu.
Kamar tamu dan kamar tengah sebetulnya satu kamar berukuran tujuh kali sembilan meter, disekat dengan bufet kayu jati berisi beberapa souvenir dan guci dalam ruang kaca. Ada akuarium di samping tembok dan televisi di ruang tengah. Kursi mebel standar menjadi penghuni setia kamar ini, belum berubah sejak aku keluar. Aku harus menyeberanginya dan merunduk di balik bufet. Ini tidak sulit kecuali kalau salah seorang dari mereka keluar dari kamar tamu. Kemungkinan itu kecil, mereka tengah berbincang-bincang, gemanya memenuhi ruangan, tak jelas seperti dengung lebah. Aku mendekati mereka dan bersembunyi di balik bufet. Tiga detik! Kini percakapan menjadi jelas.
“Sekali lagi saya minta maaf, dulunya memang ia nakal, tapi sekarang tidak. Ia sering menelepon dan mendesak saya untuk meminta maaf dan mengembalikannya pada Bapak.” Haji Amin bersuara agak parau, berat. Intonasinya kurang jelas. Aku tak mendengar jawaban si tamu.
“Sebagai permohonan maaf, milik Bapak akan saya kembalikan, dokumennya bisa kita urus besok,” Haji Amin melanjutkan. Tamu itu mengucapkan sesuatu tapi aku tak jelas mendengar. Ia pasti duduk agak jauh, mungkin di ujung sofa, meringkuk menenggelamkan diri di kamar besar rumah ini.
“Ia pulang enam bulan lagi, ia akan menjumpai Bapak begitu tiba disini.” Diam. Kubayangkan tamu itu manggut-manggut.
Saat itulah terdengar jerit kecil tertahan dan suara gaduh dari belakang. Sial, kenapa Roni seceroboh itu? Sejurus kemudian haji kaya itu berkata, “Maaf, saya ke belakang sebentar.”
Tuan rumah muncul dari balik bufet. Pada langkah ketiganya, aku melompat menerjangnya. Tangan kiriku membekap mulutnya, tangan kanan memukul satu urat di tengkuk yang akan membuatnya pingsan. Reaksinya terlambat dan tidak tepat. Aku menindih tubuhnya dan mengunci tangannya. Sayang ia tidak pingsan, pukulanku kurang keras atau kurang tepat di bagian yang vital. Aku terpaksa memberi bogem lagi sampai ia tidak berdaya.
Roni bergegas menyongsong tamu yang ikut campur tangan. Ia lebih tangkas. Aku tak sempat menoleh begitu terdengar suara gaduh yang hanya sebentar. Ketika aku selesai mengikat orang tua kaya malang itu, Roni pun selesai dengan tugasnya. Tamu itu telungkup di atas sofa. Aku tak melihat jelas mukanya, hanya rambutnya yang hitam putih.
Kami segera pergi ke kamar tidur Haji Amin yang sudah terbuka. Ada dua lemari besar. Aku mengeluarkan kawat baja, memasukkannya ke dalam lubang kunci dan memutar-mutarnya. Perlu tiga puluh detik sampai akhirnya berhasil.
Emas! Dimana-mana emas. Aku gemetar meraup benda-benda berkilau itu. Kami berebut memasukkannya ke dalam kantung kulit masing-masing. Empat kilo ada kukira. Sementara Roni Gesit menemukan puluhan bundel uang ratusan ribu. Di laci paling bawah aku mendapati puluhan map berisi surat-surat tanah.
Kukeluarkan semua dan kuhamparkan di lantai. Dengan bantuan lampu senter aku membuka satu per satu dalam kecepatan tinggi. Ketika menemukan nama ayahku, aku segera menyembunyikannya dibalik baju. Dalam waktu lima menit kami sudah selesai dan bergegas keluar kamar. Lima menit yang serasa lima jam, diteror debur jantung yang tak pernah kurasa sebelumnya, menyuruhku cepat-cepat mengakhiri petualangan pertama ini.
Dua orang itu masih tergeletak. Dari sini sosok tamu itu terlihat lebih jelas dan darahku mendadap tersirap. Aku seperti mengenalnya. Ketika kudekati dan kubalikkan wajahnya, tidak salah lagi, aku mengenalnya! Kuraba leher dan nadinya, ia hanya pingsan. Aku longgarkan ikatan tangan dan mulutnya. Jantungku berdetak lebih keras, tetapi waktu tidak banyak. Aku lalu menyusul Roni yang sudah ada di atas.
Di luar malam tetap kelam, menyembunyikan perbuatan kami dari mata manusia. Kami cepat-cepat menelusuri kebun dan berhenti pada pohon ketiga. Ketika ia hendak memanjat, aku serta merta mencekal tangannya.
“Jangan, kita kembalikan saja harta ini,” bisikku parau.
“Bodoh,” sahutnya agak keras. Matanya melotot. “Kita tinggal lari dan beres.”
“Tidak,” kataku, “ia orang baik-baik, ia kaya tapi itu bukan salahnya.”
“Siapa peduli.“ Roni menepiskan tanganku dan berhasil naik ke atas tembok. Aku cepat-cepat menyusulnya dan menahannya di atas. “Ini operasi terakhir, jangan lakukan lagi.”
“Itu bukan urusanmu, pengecut,” katanya makin keras. Ia turun, aku menyusul. Aku segera membuka topeng dan berbicara lirih, “ia mau memberi tanah kepada orang itu, ia orang baik-baik.”
Roni membuka topengnya juga. Wajahnya lebih keras malam ini. “Sudah kukatakan itu dari dulu, engkau tak percaya, sekarang tak ada gunanya.”
“Ini lain, ia mau memberi tanah pada tamu itu, apa kau tak mengerti?”
“Tidak.” Hening sebentar. “Apa kau mengenalnya?”
“Tentu saja,” kataku pelan. “Ia ayahku.”
Kami dua meter dari tepi sebuah gang, terlindung perdu yang mengelilingi tembok dari luar. Lampu pertama ada di ujung, seratus meter jauhnya. Tidak ada orang lewat.
“Tamu itu ayahku dan ia akan mengembalikan tanah yang dulu ia beli dari kami,” aku mengulangi percakapan kedua orang itu yang mendadak terang di kepalaku.
“Kau tidak bohong?” Roni tampak tidak mempercayai ceritaku.
“Tak salah lagi, ayo kita kembalikan harta ini.” Aku berdiri, ia mencekal tanganku.
“Tidak, itu tindakan paling konyol seorang pencuri. Kalau tidak mau maling, jangan pernah jadi maling.” Roni Gesit tidak bergeming
“Hei, kita satu tim, kita tidak boleh berpecah gara-gara ini.”
“Kau yang bodoh, aku tidak mau menjadi ikut-ikutan bodoh. Kalau kau mau kembalikan, kembalikan sendiri.”
Aku tidak punya banyak waktu untuk berpikir. “Baiklah, tunggu disini, aku kembali secepatnya.”
Tapi baru dua langkah ia mencekal tanganku. ”Bodoh, kembalikan surat itu saja, emasnya jangan.” Ia lalu merebut kantung emasku. Sebelum aku menyadari tindakannya, ia sudah berseru lagi, “cepatlah, sebelum mereka bangun. Aku tunggu disini.”
“Benar, tunggu disini, jangan lari.”
Aku tak bisa berpikir panjang lagi mengingat kemungkinan bahwa ketiga penghuni itu akan bangun dalam waktu dekat. Aku cepat-cepat mengenakan topeng dan kembali ke naik ke tembok. Tapi sebelum kembali ke atap rumah, aku mendengur deru motor memecah kesunyian malam. Aku terkesiap. Roni Gesit pergi? Sialan, bangsat betul dia!
Sejenak aku bingung. Tapi tak ada waktu untuk itu. Aku naik ke genteng, masuk melalui eternit yang rusak. Aku turun.
Kedua orang tua itu masih pingsan. Aku segera mengembalikan map itu pada tumpukannya yang berceceran.
Tapi ketika aku keluar kamar, baru setengah langkah, sebuah benda keras menghantam kaki kiri. Aku spontan menjerit, bergulingan menahan sakit, lalu membalikkan badan. Tulangku patah rasanya, tak salah lagi. Di depanku berdiri seorang perempuan, dengan kayu dua meter dalam genggaman. Mengapa ia bisa melepaskan diri? Jangan-jangan Roni tidak mengikatnya. Busyet!
Perempuan itu menghajarku lagi dengan pukulan bertubi-tubi. Aku mencabut pisau, menangkisnya dan berharap ia takut lalu mundur. Tapi tidak, ia terus maju. Tak urung kepala, badan, tangan dan kakiku memar-memar. Aku terus menggeser pantat dengan bantuan tangan kiri, tulang-tulangku serasa dilolos. Aku tak mau membalasnya. Perempuan setengah tuli itu seperti kesetanan, teriakannya melengking di malam itu, bisa membangunkan tetangga dan dua orang tua yang pingsan di samping kami. Apakah pendengarannya sudah pulih?
Hampir satu menit aku dihajarnya – satu menit berarti lebih dari seratus pukulan. Daripada aku mati atau pingsan, akhirnya kuputuskan untuk melawan. Aku menangkap tongkatnya dan menarik-nariknya. Ia mempertahankan mati-matian. Ketika ia menarik kuat-kuat, aku melepaskannya dan ia terjerembab, badannya menabrak lemari, kayunya lepas dari genggaman dan segera kuraih. Ia berusaha berdiri. Aku, yang tetap tak bisa berdiri, mengancam dia dengan mengayun-ayunkan tongkat itu. Ia bimbang sejenak. Ia berdiri dan mengambil jarak. Tetapi ada bahaya lain. Sudut mataku lalu menatap sosok ayahku yang bergerak-gerak. Benar saja, orang tua itu sudah sadar. Ia lantas duduk dan memandang kami berdua.
“Ada apa ini?” tanyanya dengan suara bergetar.
“Ada seorang pencuri, Pak, ada maling, tapi kepergok sama saya dan lihat, ia tak bisa berdiri, kakinya kena saya pukul dengan kayu, mungkin tulangnya patah,” jawab Bi Tina diburu nafas tersengal-sengal.
“Bagaimana Haji Amin?”
“Masih pingsan, Pak.”
Ayah berdiri dan mendekati tuan rumah. Ia segera membuka ikatannya dan mencoba menyadarkannya. Matanya terus berganti-ganti antara aku dan Haji Amin. Ketika Haji Amin tidak juga sadar, ia mendekati aku. Dalam jarak dua meter ia berhenti. Aku masih bertelekan pada kaki sebelah dan mengayun-ayunkan tongkat. Tapi kali ini tenagaku benar-benar lemah. Yang paling kutakutkan adalah ayah mengenali mataku. Untung ruangan ini remang-remang.
“Hati-hati, Pak, ia membawa kayu keras dan masih bisa memukul Bapak,” ingat Bi Tina.
“Tolong telepon polisi, Bi, bilang ada maling di rumah ini,” kata ayah tenang. Ia menatap tajam mataku. Aku mencoba menghindarinya dan berpikir keras melepaskan diri dari suasana ini tanpa melukai siapapun, terutama ayahku. Apakah bisa?
Bi Tina menelepon. Kepanikanku bertambah. Dengan sisa-sisa tenaga aku mencoba berdiri lagi, dibantu oleh tongkat. Berhasil! Aku berjalan menjauh dua langkah, diiringi tatapan ayah. Tapi kemudian tulang kakiku seperti kena setrum, tak kuat menyangga berat tubuh. Aku kembali jatuh.
Melihat aku tak akan bisa pergi jauh, ayah kembali pada tuan rumah. Ia memberi beberapa pijatan pada tengkuk, leher dan urat-urat penting lainnya. Beberapa saat kemudian Haji Amin membuka mata dan duduk. Ia memandang kami berganti-ganti.
“Syukurlah Bapak segera sadar. Ada seorang maling di rumah Bapak, tapi ibu ini berhasil melumpuhkannya. Polisi juga sudah dihubungi,” kata ayah. Haji Amin menatapku lalu bangkit dan berjalan mendekat. Aku kembali mengayun-ayunkan tongkat.
“Jangan mendekat, Pak, ia masih bertenaga dan bisa memukul Bapak dengan kayu itu,” ingat Bi Tina lagi.
“Bi, nyalakan semua lampu,” suruh Haji Amin. Bi Tina melakukannya dan mendadak ruangan itu menjadi seperti siang, terang benderang. Aku agak silau. Kali ini pikiranku betul-betul buntu. Kepanikanku sudah mencapai puncaknya. Apakah aku mengaku saja? Apakah Haji Amin mau mengampuni? Apakah ayah mau memaafkan? Atau aku menyerang mereka bertiga dengan sepenuh tenaga tanpa basa-basi? Tapi toh akhirnya aku akan tertangkap juga karena polisi sedang kemari.
“Apa yang akan kita lakukan?” tanya ayah.
“Biarkan saja, orang ini sepertinya memang patah tulang, ia tak akan bisa berdiri dan berlari. Tunggu saja sampai polisi datang,” jawab Haji Amin.
Tidak, tidak, aku tak akan menunggu hal itu sampai terjadi. Aku menengok ke sekeliling. Ketika melihat akuarium, aku beringsut mendekatinya, lalu dengan susah payah aku menggoyangkan dudukannya dan pecahlah kaca itu. Berhamburan air memenuhi lantai kamar, ikan-ikan berloncatan. Aku lalu beringsut mendekat lemari, dengan sekuat tenaga kurobohkan lemari itu. Agak sulit dari posisi merangkak seperti ini. Tapi dalam kepanikan luar biasa tenagaku kembali pulih bahkan berlipat ganda, akhirnya aku berhasil. Barang-barang pecah belah berhamburan. Kini antara mereka dan aku dipisahkan puing-puing. Aku lalu beringsut mendekati tangga ke lantai dua. Mencoba menapaki satu demi satu anak tangga.
“Apa sebaiknya kita teriak saja biar tetangga mendengar dan menolong kita?” tanya ayah, yang masih jelas kudengar.
“Jangan, saya takut mereka akan memukulinya ramai-ramai, saya tidak ingin ada pembantaian di rumah saya,” sahut Haji Amin.
“Tapi ia bisa merusak barang-barang Tuan,” kata ayah khawatir.
“Biar saja, asal tidak ada yang terluka.”
Aku berhasil naik ke anak tangga kedua dengan susah payah. Lalu ketiga. Lalu keempat.
“Pak, ia sudah hampir naik setengahnya,” kata Bi Tina.
“Ya, memangnya mau kemana, ia tak bisa naik ke loteng. Ia tahu ia akan tertangkap, biarkan saja,” jawab Haji Amin kembali. “Lebih baik bersihkan puing-puing itu, Bi.”
“Apakah kita tidak akan mencoba membuka topengnya, Pak?” tanya ayah. Busyet!
“Jangan, biar polisi yang melakukannya,” jawab Haji Amin datar. Apakah Haji Amin tahu siapa aku dari perawakan dan sorot mataku?
Aku tak sempat memikirkan hal itu. Aku terus naik, meski tahu memang aku tak akan mampu naik ke eternit di atas kamar barang bekas itu. Tapi daripada menunggu ditangkap tanpa perlawanan, inilah satu-satunya hiburan yang bisa kulakukan.
Mereka akhirnya membiarkan aku terus naik, sampai akhirnya tiba di lantai dua. Mereka hanya mengawasi aku dari lantai satu. Sayup-sayup aku mendengar suara sirene. Makin lama makin dekat. Deru mobil berhenti. Lalu ketukan pintu. Polisi sudah datang. Inikah akhir hidupku?
Ketika mereka masih bercakap-cakap, mendadak seseorang mendekatiku. Roni Gesit! Ia bergegas menyeretku menjauhi bibir lantai dua, menjauhkan dari pandangan mereka. Tiba di kamar barang bekas ia naik ke lubang eternit. Dari atas ia mengulurkan tali. Aku memegangnya erat-erat dan ia sekuat tenaga menarikku. Dengan susah payah ia menggendong aku, menuruni genteng, menelusuri kebun belakang berhenti di pohon ketiga, naik ke tembok lalu cepat-cepat turun. Motor kami sudah menunggu, dalam keadaan hidup.
Terdengar tembakan pistol dan teriakan polisi. Tetapi Roni lebih gesit. Dalam hitungan detik kami segera melaju, melalui jalan-jalan berliku dan akhirnya ke jalan raya, sekian kilometer dari tempat semula. Aku bersyukur luar biasa. Roni Gesit benar-benar bisa diandalkan dalam suasana genting. Aku bangga mengenalnya, meski ia akan marah-marah luar biasa begitu tahu bahwa ketika ia menggendongku tadi, di kebun belakang, dalam kepanikan nyata tertangkap polisi, aku berhasil merenggut kantung emas dan dolar dari balik bajunya, lalu kujatuhkan dengan sengaja.***
Bandung, Mei 2005


2 Komentar

  1. ratutebu mengatakan:

    mantabbbbb.. bgt.. meni lonk pisan euy..

  2. charm mengatakan:

    cerpen yang sungguh bagus dapat membangkitkan ketegangan pembaca dan ending yang tak terduga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pelongok

  • 217,543 Kepala

Ziddu

Juni 2008
M S S R K J S
    Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
%d blogger menyukai ini: