Beranda » Opini » Siapa yang Sontoloyo: Kepala BIN, Menteri atau… Presiden?

Siapa yang Sontoloyo: Kepala BIN, Menteri atau… Presiden?

Sontoloyo. Kata ini dalam Kamus Bahasa Indonesia mengandung arti bodoh, konyol, tidak beres atau brengsek. Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Syamsir Siregar menyematkan kata-kata itu pada menteri-menteri yang bersikap plin-plan terhadap kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM. Di rapat kabinet menyetujui, tapi menentang di tempat lain. Bahkan fraksi-fraksi DPR yang semula menyetujui kenaikan itu berbalik tidak setuju dan mendukung hak angket DPR untuk mengajukan pertanyaan kepada presiden.

Penyelenggaraan pemerintahan Indonesia hari ini memang sebuah anomali. Presidennya dari partai kecil dan wakil presidennya sebelum naik bukan seorang ketua partai besar. Alhasil untuk menopangnya mereka mengangkat menteri-menteri dari berbagai partai politik sebagai balas jasa. Sebetulnya namanya lebih tepat kabinet pelangi, bukan Kabinet Indonesia Bersatu.

Namun para menteri dari parpol sadar, bahwa mereka jadi menteri lebih karena utusan parpol dan bukan karena sikap profesionalisme seorang kepala pemerintahan. Jadilah tarik ulur yang tidak berkesudahan antara presiden-menteri-parpol. Presiden sebagai atasan para menteri tidak serta merta mendapat kesetiaan tertinggi dari mereka. Sedangkan parpol sering mendua hati, melihat situasi sebelum bersikap mana yang lebih menguntungkan, mendukung pemerintahan (yang mereka terwakili) atau oposisi, bila itu lebih menaikkan popularitas menjelang Pemilu 2009.

Kalau timbangannya kekuasaan memang tidak ada sikap yang pasti. Semua serba mengambang, setiap saat bisa berubah. Hari ini mendukung kenaikan BBM, besok bilang tidak tahu, lusa malah menentang. Solusinya sebenarnya sederhana: para menteri harus lebih mengutamakan kesetiaan terhadap presiden daripada parpol. Ga usah tak perlu takut direcall parpol. Sedangkan parpol yang “mengutusnya” juga harus berlepas diri. Tindak tanduk sang menteri sudah bukan perwakilan parpol lagi, tapi bagian dari perahu besar bernama kabinet dengan nakhoda sang presiden.

Dengan demikian sikap-sikap sontoloyo bisa dihindari. Menteri yang mendua hati memang sontoloyo, dan harus tegas lebih memilih jabatan sebagai bawahan presiden atau kedudukan di parpol. Harus pilih salah satu, ga usah rakus! Bila bicaranya lain-lain, ditengah sorotan masyarakat yang kurang respek terhadap tingkah polah para politikus, ia betul-betul menteri yang sontoloyo!

Kepala BIN juga sontoloyo. Sebagai sebuah lembaga, tidak seharusnya ia mengumbar hasil penelitiannya kepada publik, yang mengakibatkan terbukanya “rahasia” bahwa ternyata para penyelenggara pemerintahan tidak seia sekata. Kalo soal ini saja berlarut-larut, mana bisa mereka menyelesaikan persoalan yang lebih besar? Jadi cukup laporkan saja ke presiden, bahwa ada menteri-menteri yang berkata dan bersikap begini-begono-begunu. Selanjutnya terserah presiden mau diapain menteri tersebut, ditegur, didiamkan, atau kalo perlu dicopot. Ga usah takut dukungan berkurang, emangnya pernah naik…?

Dan presiden juga sontoloyo, kalau mendiamkan saja persoalan ini. “Keributan” kecil diantara anak buahnya jelas mengurangi kredibilitasnya sebagai pemimpin. Kalau ia saja tidak bisa menengahi pertengkaran mereka, mana bisa ia menyelesaikan persoalan negara? Ga usah cemas, ga usah denger omongan orang, ga mungkin ada suksesi gara-gara kenaikan BBM, toh pemilu sebentar lagi. Kapan lagi menggunakan kekuasaan sepenuh hati dan menghilangkan citra sebagai pemimpin yang ragu-ragu kalau tidak sekarang?


3 Komentar

  1. Nyong mengatakan:

    Presiden memang sontoloyo, orang sementara susah BBM dinaikkan, terus orang disuruh sabar, Sontoloyo. Presiden sontoloyo enak dari bangun tdr sampai td kembali dibiayai oleh negara, rakyat kecil yg sdh tdk punya apa2 disuruh hemat, Sontoloyo.

    Kepala BIN juga sontoloyo, kasus munir sampe skrg blm selesai malah ngurusin kabinet, Sontoloyo

  2. taUbat mengatakan:

    Dalam Kitab Gatoloco artinya sontoloyo …..
    BIN >< Republik BBM, infonya BBM lebih mutahir, maka diadakan tandingan lelucon.
    keseriusan akan tugas utamanya jadi dipertanyakan, kasus besar menyangkut hajat hidup rakyat indonesia terloloskan.
    aksi kecil mahasiswa, demo, kejadian dalam negeri lainnya jadi persaingan bahan infotaimen.
    apa mungkin BIN bekerja sama saja dengan lembaga pemberantasan korupsi besar kemungkinan pasti ada manfaatnya.

    BIN masih banyak tugas didepan dan ingat kapasitanya sebagai apa ?

  3. Wulansari mengatakan:

    Jangan hanya para pejabat dong yang disorot, mereka pemimpin sontoloyo karena rakyatnya sontoloyo juga. Jadi klop. Negeri ini memang negeri sontoloyo! Kaga ada yang bener, sebelll…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pelongok

  • 217,688 Kepala

Ziddu

Juni 2008
M S S R K J S
    Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
%d blogger menyukai ini: