Beranda » Opini » Mengapa Kalian Ingin Memisahkan Kami? Cerita Cinta Syekh Puji-Lutfiana Ulfa

Mengapa Kalian Ingin Memisahkan Kami? Cerita Cinta Syekh Puji-Lutfiana Ulfa

Sejak beredar kabar pernikahan miliarder asal Bedono, Jambu, Semarang Syekh Puji dengan gadis kelas 2 SMP, Lutfiana Ulfa, saia termasuk yang gatal ingin menulis komentar. Tidak jauh-jauh, nadanya tentu mengritik, menghujat, menyalahkan, dan mendorong tuntutan hukum terhadap pemilik pesantren dan pengusaha umur 47 tahun itu. Judulnya sudah ada di kepala, misalnya: Syekh Puji, Kali Ini Anda Kurang Terpuji.

Tapi niat itu tertunda.

Ketika lalu Kak Seto datang dan memberi “tausiah” kepada Syekh Puji dan terdengar kabar Syekh Puji mau membatalkan pernikahannya, sudah ada judul baru di kepala. Seperti: Syekh Puji Takluk Di Hadapan Kak Seto. Namun kemudian ternyata berita itu tidak benar, Syekh Puji tidak ingin menceraikan isteri keduanya.

Niat menulis kembali tertunda. Satu alasan terbesar adalah belum adanya suara dari Ulfa. Yang ada adalah suara-suara para orang “dewasa”, orang tua, orang yang sudah menikah, para pendekar hukum. Pelakunya sendiri baru lelaki yang bicara.

Dan kemarin, Ulfa berbicara di depan kamera. “Saya mencintai Syekh, saya berharap teman-teman dan guru-guru mendoakan saya. Saya merasa hepi. Berkaitan dengan pernikahan saya dengan Syekh Puji, saya tidak merasa tertekan, dan saya ikhlas menjalaninya. Untuk itu saya minta kepada semua pihak untuk tidak mempermasalahkannya,” kata Ulfa.

Ya, itulah isi hati gadis 12 (14?) tahun itu.

Jadi, kalau Syekh Puji ikhlas dan bergembira, kalau isteri pertamanya Ummi Hani ikhlas dan bergembira, kalau Suroso ayah Ulfa ikhlas dan bergembira, kalau Lutfiana Ulfa ikhlas dan bergembira, mengapa kita mempermasalahkannya?

Singkirkan dulu teksbuk Undang-undang Perkawinan, usia perkawinan minimal 16 hanyalah angka! Jauh lebih penting adalah kasus per kasus. Di masa modern sekarang ini, banyak gadis cepat dewasa dibandingkan masa kakek nenek mereka. Umur 8-9 sudah mens, sudah fasih ngomong pacaran, usia SMP sudah malu kalo ga punya pacar, usia SMA sudah punya selembar daftar mantan pacar, mungkin selepas SMA sudah tidak perawan. Ini bukan cerita menarik lagi, ini sudah terjadi sering dan berulang kali di sekitar kita.

Jadi kalau ada orang tua yang ingin menikahkan anaknya dan sudah ketemu jodoh, anaknya mau dan ikhlas, apa lagi yang kita cari? Pengalaman mereka berbeda dengan pengalaman kita. Cara mereka menyelesaikan masalah mungkin tidak lazim, tetapi tidak menabrak rambu-rambu agama, bahkan bisa sekaligus menyelesaikan beberapa masalah: orang tua “selesai tugasnya” menikahkan anak, anak bisa dirawat dan membangun kehidupan baru, syekh puji ayem tentrem memikirkan penerus usahanya, lalu apa masalahnya…?

Keberatan misalnya si anak belum siap secara lahir batin, belum matang organ reproduksinya, belum benar-benar mempunyai keinginan yang sesuai dengan hidupnya, adalah kasus individual, bukan kasus global. Toh Ulfa sudah bicara bahwa dia bahagia.

Mungkin anda ragu bahwa ucapannya tidak keluar dari dasar hatinya, atau ada tekanan tertentu, atau malu kalau menyandang status janda cilik. Silakan berasumsi, tetapi Ulfa sudah bicara.

Jadi, sekarang, berhentilah meributkan perkawinan mereka. Masih banyak urusan rumah tangga kita sendiri yang perlu ditangani serius. Masih banyak urusan remaja yang perlu penanganan segera. Bahwa perkawinan Syekh Puji-Ulfa adalah masalah, rupanya hanya imajinasi kita.

Masalah sebetulnya adalah perdagangan manusia, perkawinan kontrak, pemaksaan pekerja anak, aborsi, free sex, pergaulan bebas, penyebaran pornografi, dan sebagainya.

Biarkan mereka menjalani cinta dengan cara mereka sendiri.
Kita, mari kembali mengurusi diri sendiri.


12 Komentar

  1. Bang Kritikus mengatakan:

    Setuju bang aku juga udah nulis senada dengan abang di blogku dengan judul Syaikh Puji Tidak Bersalah Ulfa Tertekan ??

  2. Abah Zacky as-Samarani mengatakan:

    Nikah kok kurang terpuji. Orang Ukfahnya saja mau. kalao soal nulis, saya juga nulis masalah syekh puji di blogku, abahzacky.wordpress.com.

  3. Dilla 'RumahKami' mengatakan:

    walah, pada lempar trackback
    hihihi

    saya tidak menulis ttg ini
    tapi pendapat saya sama dg tulisan ini.. setuju😉

    saatnya kita ngurusi urusan masing2 daripada ngerusuhi orang lain
    titik

  4. rudi mengatakan:

    he2
    maaf sebelunya btw tentang syekh sp td lupa ni,,,,,,,pokeke itu deh….

    ni temenq pny uneg2
    katanya klu di negara indonesia hrusy ikutin donk dengan aturan negara yang berlaku jangan main sndiri
    klu pengen nikah lagi dengan ank yang blm ganp umurnya d arab ja ya syekh,, oke
    buat ulfa kalu seandainya syeh itu orang miskin gmn coba masih mau g?
    mksih d ijinin nimbrung dsni

    good nigth

    • nadha mengatakan:

      ya… justru itu, karena syeh puji kaya dan bertanggungjawab (hidup bersama dengan cara menikahi) kenapa menolak????. coba tengok di sekitar kita, banyak lo anak SMA kls 1 ato SMP, bahkan SD yg sudah pada hamil (coba umurnya kan hampir sama dg ulfa), dg laki-laki yg gak jelas masa depannya lagi!!!!!

  5. Jefri Anto mengatakan:

    memang benar yg anda omomgin itu,karena pekembangan zaman ,saya pengen tanya sama anda, ibu anda perempuan nggk,kalau ibu anda dipoligami oleh ayah anda[kawin lgi sama wanita yg lebih muda gimana perasaan anda,dan juga ibu anda, anda bahagia nggk,

    • Putri.azhari.khomaria.stg mengatakan:

      stuju mana ada orang yg di poligami sng, krn ulfa blm tau dunia kl dia tau dunia mungkin dia kbr sm cwk yg lbh ganteng dan muda

  6. mantap, lanjutkan bung. . .

  7. eko purwanto mengatakan:

    bunuh orang selain beragam islam seperti mereka membunuh orang islam

  8. Merlis mengatakan:

    Menikah adalah Hak Asasi Manusia yang paling Asasi…Melarang Pernikahan adalah Pelanggaran HAM terburuk…..Cinta tidak bisa diintervensi Undang Undang, mengapa negara mengintervensi cinta? cinta adalah hak paling mendasar setiap manusia yang punya hati, dan satu2nya hal utk mewujudkan cinta adalah pernikahan, tidak ada selain pernikahan apalagi cuma pacaran….Pacaran Dini dibiarkan tapi pernikahan dini tidak dibiarkan….negara kafir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pelongok

  • 217,688 Kepala

Ziddu

November 2008
M S S R K J S
« Okt   Des »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
%d blogger menyukai ini: