Beranda » Opini » Kalo Cuma 500 Perak, Mending Premium Ga Usah Turun!

Kalo Cuma 500 Perak, Mending Premium Ga Usah Turun!

Mungkin baru kali ini pemerintah kita berani menurunkan harga bahan bakar minyak (CMIIW). Baru Mei lalu (?) premium naek dari 4000 menjadi 6000, sekarang gara-gara harga minyak dunia sekitar 63 dolar per barel, premium diturunkan dari 6000 menjadi 5500 rupiah, alias turun 500 perak per liter. Harga baru berlaku per 1 Desember 2008. Sri Mulyani bilang nanti harga akan terus dikoreksi per bulan.

Pertanyaannya: apakah penurunan 500 perak per liter cukup signifikan agar dirasakan masyarakat Indonesia?

Jawaban saya: TIDAK!
Alasannya (mode sok tahu plus ndeso: ON):

1. Premium adalah bahan bakar yang dipakai roda dua dan sebagian roda empat, dan sebagian besar untuk kendaraan pribadi. Sedangkan kendaraan umum dan berat lainnya sebagian besar menggunakan solar. Mesin-mesin industri dan kapal juga menggunakan solar. Solar tidak turun. Untuk bebek misalnya, dengan 6000 per liter bisa menempuh jarak taruhlah 40 km, jadi Rp 600 per 4 km. Kalo cuma ngurangi 500 berarti sekitar 3 km lebih. Tidak siginifikan untuk kendaraan roda dua!

2. Kembali ke kendaraan umum. Karena banyak yang menggunakan solar, dengan sendirinya mereka tidak akan menurunkan tarif kendaraan. Pun bagi yang menggunakan premium, terlalu sulit untuk menghitung besaran penurunan, plus mereka sudah kadung dengan tarif sekarang. Mereka akan tetap bertahan pada tarif sekarang. Dengan kata lain: ongkos kendaraan umum tidak ikut-ikutan turun.
Jadi: tidak signifikan untuk menurunkan tarif transportasi.

3. Bagi dunia industri yang menggunakan bahan bakar solar, sama seperti diatas: TIDAK SIGNIFIKAN! Alias ongkos transportasi dan ongkos produksi tidak berubah.

Lalu, biar kebijakan ini signifikan bagaimana?
Jawabannya:
1. Turunkan 1000 rupiah, alias jadi 5000 perak per liter untuk premium.
2. Solar dan minyak tanah juga diturunkan, besarannya 20-30%.

Mungkin ada bantahan seperti ini:
Tidak bisa, harga BBM sangat bergantung pada harga minyak dunia yang fluktuatif dan tidak bisa ditebak. Kalo nanti BBM dunia naek lagi, BBM Indonesia juga ikut naek.

Jawabannya:
Ah, kayaknya bisa deh. Coba ingat-ingat, dulu BBM dunia naek, BBM kita ikut-ikutan naek, cepet-cepet lagi. Giliran turun, eh, agak lelet.🙂 Sekarang minyak dunia jatuh sampai 63, alias turunnya nggak tanggung-tanggung, eh BBM kita turunnya nanggung banget.

Jadi alternatifnya ada dua:
1. Turunkan premium 1000 perak, juga solar dan minyak tanah untuk rakyat.

2. Kalo ga bisa (cuman premium doang dan 500 perak), mending ga usah deh. Saia ikhlas kok tetep bayar 6000, asal, nah ini dia:

KARENA ADA KELEBIHAN alias untung besar (kalo ga salah produksi kita 950 ribu kiloliter per hari? kalikan sendiri keuntungannya kalo ongkos produksi cuma 4000 per liter), maka KELEBIHANNYA DIKEMBALIKAN KEPADA RAKYAT.
Bentuknya bisa macam-macam, kredit lunak kek, membuka lowongan kerja, menyantuni fakir miskin, menyumbang daerah tertinggal, cadangan dana sosial bencana alam, dan sebagainya. ASAL TIDAK DIKORUPSI!
Susahnya, ngawasin uang segitu banyak emang susah. Jangan-jangan ongkos pengawasannya lebih banyak dari uang yang diawasi.

Gitu aja dah!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pelongok

  • 217,543 Kepala

Ziddu

November 2008
M S S R K J S
« Okt   Des »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
%d blogger menyukai ini: