Beranda » catatan kecil » Apocalypto dan Samagat Turun Melayu

Apocalypto dan Samagat Turun Melayu

jaguarpawTahun 2005, sewaktu masih di Bandung, saya sempat membuat cerita pendek tapi panjang (20 halaman kuarto 1,5 spasi) berjudul Samagat Turun Melayu. Cerita ini berlatar belakang kebudayaan Dayak Taman di pinggiran sungai Kapuas di daerah Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Saya tidak terlalu puas, karena pengetahuan saya tentang mereka hanya dari sebuah buku (saya lupa judulnya) plus beberapa artikel di internet. Tahun 2007 saya sempat menengok kakak di Singkawang, Kalimantan Barat juga, tapi masih ratusan kilometer dari Kapuas Hulu. Dan kemarin, saya menyaksikan film Apocalypto (2006) besutan Mel Gibson setelah nyedot dari youtube. Aha, inilah benang merahnya.

Samagat Turun Melayu menceritakan tentang perjalanan ruhani seorang pemuda dari suku Dayak Taman, tepatnya dari “kasta” samagat, mungkin setara dengan kasta brahmana dalam Hindu, yaitu puncak dari empat kasta lainnya. Mereka menjadi penguasa dan pemegang keputusan adat istiadat sukunya secara turun temurun. Alkisah, Dipa, anak seorang kepala suku, jatuh cinta pada Sarai dari kampung lain. Demi cintanya ia berkelana sampai ke Serawak untuk mencari garantung 12 jengkal yang sulit didapat. Namun ketika ia kembali, ia dapati Sarai hendak menikah dengan saudaranya, Kalayak. Ia marah dan melukai mereka. Ia menjadi buronan. Dalam pelariannya ia sampai ke sebuah komunitas muslim Dayak Taman. Bukannya mendapat perlindungan, ia malah memicu perang saudara di antara mereka. Namun untunglah kedua belah pihak masih bisa mengendalikan diri. Dipa justru kembali untuk menyerahkan diri.

Saya tidak puas karena beberapa hal. Pertama, setting budaya Dayak Tamannya kurang detil, misalnya tentang kebiasaan sehari-hari dan bahasa. Kedua, benturan budaya antara sesama Dayak Taman kurang dapat. Ketiga, saya bahkan berpikir bahwa sebetulnya yang lebih tepat adalah benturan antara budaya Dayak Taman dengan para pengrusak hutan. Jadi ketika sesama Dayak Taman berselisih, sebetulnya urusan mereka bisa diselesaikan secara baik-baik, namun bagaimana dengan perambah hutan liar? Keempat, alur cerita tersebut bisa mengalir kemana-mana dan layak untuk menjadi tema sebuah novel 300-an halaman.

Lalu apa hubungannya dengan Apocalypto? Terlebih dahulu harus dikatakan bahwa baru seminggu ini saya tahu ada film berjudul Apocalypto. Sebagai produser, sutradara sekaligus penulis skenario, jiwa Mel Gibson cukup kental dalam film ini. Film ini berbahasa Yucatec Mayan menceritakan kisah tentang suku Maya di Amerika lama. Jaguar Paw, anak pemuka suku Flint Sky, bersama seluruh lelaki dewasa yang tertawan dari penyerbuan suku lain, berhasil menyembunyikan isterinya, Seven, dan anak lelakinya, Turtle Run, dalam sebuah sumur berbatu yang kering. Para tawanan tersebut digiring ke sebuah tambang di pusat kerajaan dan dijadikan tumbal hidup oleh raja. Jaguar Paw mendapat giliran ketiga. Namun ketika ia sudah siap disembelih, mendadak matahari tertutup bulan. Rakyat menghendaki ia dan teman-temannya dibebaskan.

Jaguar Paw memang dibebaskan, namun mereka malah menjadi sasaran hidup para pemanah jitu. Jaguar Paw berhasil selamat dan berlari meski terluka parah. Karena ia sudah membunuh anak kepala suku, ia dikejar oleh para musuhnya. Ia berhasil membunuh enam dari delapan pengejarnya. Ia mesti harus terjun ke dalam air terjun belasan meter, terjebak lumpur penghisap, sembunyi di dalam pohon dan ketahuan induk jaguar yang sedang marah, menyedot bisa dari katak beracun dan memasang perangkap babi untuk mengelabui musuh.

Tinggal tersisa dua musuh pengejar ketika Jaguar sampai ke tepi pantai. Tetapi pertarungan mereka justru terhenti oleh kedatangan perahu-perahu penakluk dari bangsa Spanyol. Mereka terlalu terkesima untuk melanjutkan perkelahian. Jaguar pun cepat-cepat menemui isterinya.

Seven sang isteri dan anaknya yang bersembunyi di dalam sumur berbatu tidak bisa keluar. Ketika hujan deras, air menggenangi dasar sumur. Agar tidak tenggelam Seven memanggul anaknya. Di saat itulah, ia melahirkan bayi, yang langsung ceprot berenang. Bayangkan, melahirkan dalam keadaan hujan, air setinggi leher, lapar, sakit, plus memanggul anak! Ini adegan yang menurutku paling menyentuh. Jaguar Paw dan isteri serta kedua anaknya selamat. Namun bangsa Maya tidak selamat. Kedatangan bangsa Eropa penjajah telah memorak poranakan peradaban mereka.

Film ini memang berdarah-darah. Sudah ada peringatan bahwa beberapa adegannya tidak layak ditonton untuk usia dibawah 17 tahun. Namun saya senang alur ceritanya. Ketika diputar di akhir tahun 2006, film ini mengantongi 14,2 juta dolar dalam tiga minggu pertama dan menjadi box office, mengalahkan film-film laris lainnya seperti The Holiday, Happy Feet, Casino Royale dan Blood Diamond (Film pertama Gibson The Passion of the Christ meraih 83,8 juta dolar yang dirilis tahun 2004).

Lalu apa hubungan cerpen saya dan film Gibson? Saya ingin intensitas dan alur cerita Samagat Turun Melayu seperti Apocalypto, tapi lebih bernuansa melayu/dayak/indonesia, tidak terlalu berdarah-darah dan yang lebih penting: ada nilai yang hendak disampaikan kepada para pembaca tentang arti hutan, persahabatan, keluarga, komitmen dan cinta.

Meski, saya belum menemukan epigraph apa yang tepat untuk menggantikan kata-kata W Durant dalam film ini: “A great civilization is not conquered from without until it has destroyed itself from within.”


2 Komentar

  1. tutinonka mengatakan:

    Wah, review film yang menarik. Tapi yang lebih menarik lagi adalah cerpen tentang suku Dayak Taman itu. Saya pernah mendengar, orang-orang suku pedalaman yang masih menjunjung tradisi memelihara hutan ini (misalnya, menebang pohon ada aturannya, dimana mereka akan mendapat ‘hukuman dewa’ kalau melanggar aturan tersebut) terbengongo-bengong ketika pengusaha HPH dengan gergaji mesinnya menebangi hutan, dan toh tidak mendapat hukuman apa-apa. Mereka mengalami goncangan budaya dan kepercayaan yang selama ini mereka junjung tinggi. Nah, konflik semacam ini pasti menarik untuk ditulis.

  2. danirimineco mengatakan:

    saya kebetulan tugas di kapuas hulu tepat nya di kec.kedamin yg termasuk pada mayoritas DAyak taman dimana kalo melihat dari sosial budaya nya masyarakat taman sekarang sudah tahu dan lebih mengenal dunia luar kebetulan kamisatu team sedang mengadakan survey di sekitar wilayah dayak taman sungguh bagus apabila ceirita ini bisa di film kan dan mungkin akan mengangkat budaya lokal yang syarat dengan kearifan lingkungan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pelongok

  • 217,543 Kepala

Ziddu

Mei 2009
M S S R K J S
« Apr   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d blogger menyukai ini: