Beranda » catatan kecil » Manohara dan Prita Mulyasari: Mana yang Lebih Layak Mendapat Simpati?

Manohara dan Prita Mulyasari: Mana yang Lebih Layak Mendapat Simpati?

manohara

Manohara sudah kembali. Isteri putera mahkota kesultanan Kelantan tersebut menjadi top news 3 hari belakangan ini. Dalam wawancara dengan TvOne, saya baru tahu kalo gaya bicaranya campuran inggris-melayu-indonesia. Apakah memang dari dulu gayanya seperti itu (ga pernah liat dia sebelumnya) ataukah itu buah didikan alias terkontaminasi dari keluarga suaminya, saya ga tahu. Yang jelas, Cinta Laura mendapat saingan dalam hal ini.

Dari penampilannya di media, terlihat jelas sekali kalo Manohara sudah “menaklukkan” media massa. Ia tenang, menguasai masalah (ya iyalah), tidak mudah ditaklukkan pewawancara, menggunakan bahasa sesuai keinginannya (Rahma Sarita dan temannya selalu bertanya pake bahasa Indonesia dan Manohara menjawab dengan bahasa campuran Inggris-Melayu-Indonesia) dan ia cantik, camera face, para kameramen dengan senang hati akan menyorot keindahan wajahnya.

Masyarakat bersimpati kepadanya karena kombinasi berbagai hal: ia cantik, ia selebriti, ia isteri orang luar negeri, ia menderita karena kekerasan dalam rumah tangga, plus ibunya yang wira-wiri mencari berbagai solusi dan kisah pelariannya yang mirip film FBI.

Sekarang kita ke Prita Mulyasari. Ia sudah menikah, mempunyai anak dua, dan baru saja dipenjara karena mengirim surat pembaca. Ia mengeluh karena merasa mendapat perlakuan yang tidak semestinya dari Rumah Sakit Omni Internasional, Alam Sutera, Serpong, Tangerang ketika ia berobat kesana. RS berang. Prita ditahan Kejaksaan Negeri Tangerang di LP Wanita, Tangerang, sejak 13 Mei 2009. Ia menjadi tersangka kasus pencemaran nama baik RS berdasarkan Pasal 27 ayat (3) UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Isi pasal 27 ayat (3) UU tersebut adalah:

“Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.”

Dan ancamannya sesuai pasal 45 undang-undang tersebut adalah:

Pasal 45 ayat (1) : “Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)”.

Bahkan, selama proses penyidikan di Polda Metro Jaya, Prita dikenakan pasal 310 dan 311 KUHP. Dari Polda Metro Jaya berkas perkara sudah lengkap (P21). Namun, setelah sampai ke Kejaksaan Negeri Tangerang pasal 27 ayat 3 UU Nomor 11 tahun 2008 ditambahkan untuk menjerat Prita Mulyasari. Seketika itu pula, Prita langsung ditahan.” Saya tidak sempat pamit sama anak-anak saya,” kata Prita.

Isi pasal 310 dan 311 KUHP adalah sebagai berikut:

Pasal 310

(1) Barang siapa sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan menuduhkan sesuatu hal, yang maksudnya terang supaya hal itu diketahui umum, diancam karena pencemaran dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

(2) Jika hal itu dilakukan dengan tulisan atau gambaran yang disiarkan, dipertunjukkan atau ditempelkan di muka umum, maka diancam karena pencemaran tertulis dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

(3) Tidak merupakan pencemaran atau pencemaran tertulis, jika perbuatan jelas dilakukan demi kepentingan umum atau karena terpaksa untuk membela diri.

Pasal 311

(1) Jika yang melakukan kejahatan pencemaran atau pencemaran tertulis dibolehkan untuk membuktikan apa yang dituduhkan itu benar, tidak membuktikannya, dan tuduhan dilakukan bertentangan dengan apa yang diketahui, maka dia diancam melakukan fitnah dengan pidana penjara paling lama empat tahun.

(2) Pencabutan hak-hak berdasarkan pasal 35 No. 1 – 3 dapat dijatuhkan.

Prita Mulyasari sudah kalah dalam gugatan perdata di PN Tangerang dan sedang menunggu proses penuntutan pidana di Pengadilan Negeri Tangerang yang akan digelar 4 Juni dan dipimpin oleh Wakil Ketua PN Tangerang.

Bagaimana membandingkan kedua kasus ini? Manohara jelas pandai di depan kamera, ia mendapat banyak simpati. Prita jelas tidak mempunyai akses ke media, lha wong kebebasannya direnggut, bahkan kedua anaknya yang masih kecil tidak tahu dimana ibunya berada. Manohara menderita kekerasan dalam rumah tangga, Prita menderita karena “kekejaman dan arogansi” pelayanan publik. Manohara dibawah bayang-bayang kekuasaan Sultan Kelantan nun disana, Prita dibawah kekayaan dan kekuasaan Rumah Sakit Internasional yang mencari makan di Indonesia. Manohara sudah bersiap-siap bersama pengacaranya untuk menuntut suaminya bahkan kalo perlu sampai ke Mahkamah Internasional, Prita sudah kalah dalam gugatan perdata dan sedang menunggu gugatan pidana di PN Tangerang dengan tuntutan 1 miliar rupiah atau penjara maksimal 6 tahun. “Kesalahan” Manohara adalah ia menikah dengan anak orang berkuasa, “kesalahan” Prita adalah ia mengeluh karena mendapat perlakuan tidak semestinya dari rumah sakit yang berkuasa.

Mana yang lebih layak mendapat simpati? Dua-duanya. Tapi Manohara sudah cukup mendapat tempat dalam media massa. Bahkan Ratna Sarumpaet, yang pernah diajak ibu Manohara untuk menolong anaknya, gusar melihat kasus tersebut bergeser menjadi gosip. Dalam pandangan Ratna, kasus Manohara dengan suaminya statusnya masih fitnah, sehingga perlu ada pembuktian hukum. “Manohara sudah terlanjur memberitakan kejahatan Pangeran kelantan semenjak dua setengah bulan yang lalu. Dia punya tanggungjawab membuktikan tindakan kekerasan yang dialaminya. Jangan berlama-lama di depan kamera,” tandas Ratna Sarumpaet.

Sedangkan simpati untuk Prita baru dalam milis, fesbuk dan blog-blog saja. Sudah ada pengacara untuk mengawal kasus Manohara dan saya tidak tahu sudah ada atau belum pengacara untuk membela Prita (oh, ternyata sudah ada, Pak Samsu Anwar namanya).

pritaJadi, bila anda merasa Prita perlu mendapat simpati, minimal anda dapat bergabung dalam FACEBOOK dalam kasus ini. Pada hari ini Selasa 2 Juni 2009 jam 17.38, sudah bergabung 11.207 member (sebelumnya target hanya 5.000).

Tuntutan para fesbuker adalah:

  1. Cabut segala ketentuan hukum pidana tentang pencemaran nama baik karena sering disalahgunakan untuk membungkam hak kemerdekaan mengeluarkan pendapat
  2. Keluhan/curhat ibu Prita Mulyasari thd RS Omni tidak bisa dijerat dengan Pasal 27 ayat (3) UU ITE
  3. Keluhan/curhat Ibu Prita Mulyasari dijamin oleh UU No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
  4. RS Omni hendaknya memberikan HAK JAWAB, bukan melakukan tuntutan perdata dan pidana atas keluhan/curhat yg dimuat di suara pembaca dan di milis2

Berikut surat pembaca Prita Mulyasari seperti yang dimuat dalam Detik:

RS Omni Dapatkan Pasien dari Hasil Lab Fiktif
Prita Mulyasari – suaraPembaca

Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.

Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.

dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.

Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.

Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.

Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.

Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.

Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.

Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.

Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.

Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.

Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.

Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

Salam,
Prita Mulyasari
Alam Sutera
prita.mulyasari@yahoo.com
081513100600

Ternyata keluhan terhadap RS Omni Serpong tidak hanya dari Ibu Prita. Pada tanggal 13 Juni 2008, seorang pasien bernama Tri Darmawan dari Yogya menceritakan pengalaman pahitnya memeriksakan kesehatan di RS tersebut. Berikut kisahnya:

Batu Ginjal di RS Omni Serpong
Saya pasien Rumah Sakit Omni International Serpong, Tangerang, yang tinggal di luar Jakarta dengan penyakit batu ginjal di saluran ”urether”. Pada pertama kali datang bulan lalu, saya ditangani oleh dokter ahli spesialis urologi dengan tindakan memakai metode ESWL (metode gelombang suara/kejut). Metode ini lebih efisien dan tak merasakan sakit dan setelah dilakukan ESWL, badan saya sudah cukup baik.

Namun, selang dua minggu, saya merasakan sakit yang sama. Saya ke RS Omni International Serpong lagi dan setelah dicek ternyata batu ginjal masih ada. Kemudian saya dianjurkan ESWL lagi dan mengikuti anjuran dokter. Badan saya sudah tidak sakit lagi, tetapi selang satu minggu saya merasakan sakit yang sama. Saya melaporkan lagi ke RS tersebut, kemudian dicek foto BNO. Ternyata batu ginjal saya masih ada.

Kemudian saya disuruh ke Jakarta lagi dan dianjurkan memakai metode URS karena sudah dua kali ESWL tak menyembuhkan. Saya menyetujui karena saya adalah orang awam yang tidak tahu ilmu kedokteran. Setelah operasi URS, badan saya terasa enak. Selang empat hari kemudian, saya merasakan badan saya tidak enak lagi. Saya sudah letih dan stres mengeluarkan biaya banyak, tetapi belum juga sembuh.

Sebaiknya sebagai pasien yang tidak tahu ilmu kedokteran diberikan keyakinan untuk cara penyembuhan yang terbaik meski tidak mutlak, apalagi RS internasional sekelas Omni. Semoga RS Omni International Serpong tidak kalah dengan rumah sakit sekelas di luar negeri. Saat ini saya masih ada di rumah sakit swasta di Yogyakarta karena kateter melorot ke bawah.

TRI DARMAWAN Kompol BB Suprapto 18, Gondokusuman, Yogyakarta

Berikut pengalaman seorang pasien dari RS Omni Pulomas Jakarta Timur seperti yang dimuat Kompas:

Ambulans RS Omni Tak Mau Melayani

Pada 4 November 2008 kira-kira pukul 16.15 saya membawa anak saya ke RS Omni, Pulomas, Jakarta Timur, untuk mendapat perawatan di ruang UGD. Menurut pihak rumah sakit, anak saya mendapat serangan jantung akut. Setelah dirawat di UGD, anak saya disarankan pindah ke ruang ICCU. Tak lama kemudian, dokter menganjurkan agar anak saya dirujuk ke RS Harapan Kita untuk mendapat pengobatan lebih lanjut karena peralatan di RS Omni tidak lengkap.

Dengan segera abang saya berangkat ke RS Harapan Kita membawa hasil pemeriksaan RS Omni sekaligus memesan kamar. Pihak RS Harapan Kita menyebutkan supaya anak saya segera dibawa. Karena pihak RS Omni tidak dapat menyediakan ambulans dengan alasan sopir tidak ada, mereka menyarankan menggunakan Ambulans 118 dengan biaya Rp 200.000. Waktu itu di RS Omni ada tiga kendaraan milik rumah sakit tersebut yang sedang parkir.

Akibat tak ada pelayanan ambulans RS Omni, anak saya terlambat dibawa ke RS Harapan Kita. Beberapa jam menunggu Ambulans 118, anak saya, Daniel Wilbert Tambunan (27), drop dan meninggal dunia di RS Harapan Kita, empat jam kemudian.

Beberapa hari setelah itu, pihak RS Omni menagih biaya perawatan. Tak saya periksa satu per satu pada saat itu. Barulah saya lihat kemudian di sana tercantum biaya kamar jenazah Rp 25.000. Aneh betul. RS Omni tidak menyediakan ambulans untuk anak saya yang membutuhkannya, tapi menagih biaya kamar jenazah yang tak pernah dipergunakan anak saya.
M Edyson Tambunan Jalan Nusa Cendana Blok C No 4 Kelapa Gading Timur, Jakarta Utara

Baca juga tulisan Ndoro Kakung dan Tika dan kajian hukum tentang isi milis yang menyebar.


28 Komentar

  1. baikdanburuk mengatakan:

    Bebaskan Prita!

  2. b@njar mengatakan:

    1 lagi kebobrokan hukum negeri ini … hukum hanya menjadi alat penguasa untuk menginjak wong cilik!

  3. ibunya jihan mengatakan:

    bebaskan ibu pripta..saya dukung anda..krn memang kenyataanlah yg anda uraikan..jgn takut..

    Allahu Akbar..Allahu Akbar..

  4. Agung mengatakan:

    takut mengkritik SBY-Boediono, Mega-Pro dan JK-Wiranto……karena takut di Penjara kaya Prita Mulyasari karena pencemaran nama baik………………………pindah kewarganegaraan aja yuk……kaya Manohara…ditolongin FBI, karena bapa-nya orang Amerika, padahal bapanya lagi di penjara…….sampe segitunya Amerika membela warganya…..sementara kita udah lupa siapa saja TKW-TKW yang disiksa di Malaysia………..

  5. ekoadiwijaya mengatakan:

    tegakkan hukum di negeri ini…..hukum milik semua warga negara,bukan hanya orang kaya dan orang yang berkuasa………..MERDEKA….!!!!!

  6. sam mengatakan:

    Manohara dan Ibu prita dua kasus berbeda dengan pelayanan negara yang hampir sama; ogah nolongin orang susah!

    duh, indonesiaku…

  7. lis mengatakan:

    mana bu menkes? hakim dibayar berapa ya sama omni? duh semakain kacau aja kita ini. semoga dokternya cepet ganti profesi gantian jadi penunggu rutan…ogah aku dirawat dokter kayak begituan

  8. seperti inilah kalo jabatan hanya dijadikan kabanggaan semata dan money oriented….

    dari sistem yang kacau tercipta manusia yg kacau juga…

    ganti sistek dan hukumnya,,maka lepaslah kita dari semua ini..

    bukan hanya manohara yang mendapta mutilasi hak asasi sperti itu, aktivis2 Islam yang di tangkapi dan sampai skrng blum diketahui nasibnya jg,,hrus kita bela…
    seperti pembelaan yang kita berikan kpd Ibu Prita.
    karena sama2 korban kertidakadilan…

  9. seperti inilah kalo jabatan hanya dijadikan kabanggaan semata dan money oriented….

    dari sistem yang kacau tercipta manusia yg kacau juga…

    ganti sistem dan hukumnya dengan hukum yang penuh dengan kepastian dan punya legalitas Sang Pencipta,,maka lepaslah kita dari semua ini..

    bukan hanya manohara yang mendapta mutilasi hak asasi sperti itu, aktivis2 Islam yang di tangkapi dan sampai skrng blum diketahui nasibnya jg,,hrus kita bela…
    seperti pembelaan yang kita berikan kpd Ibu Prita.
    karena sama2 korban kertidakadilan…

  10. qwertytoo mengatakan:

    atas nama kemanusiaan, keduanya patut mendapat simpati

  11. Rindu mengatakan:

    saya simpati pada Manohara, Bu Prita dan korban banjir Lapindo …

  12. agung mengatakan:

    harus ada perubahan total di pemerintahan…
    kalo masih ada mereka “yang tua” di pemerintahan saya rasa tidak akan ada perubahan…

  13. wahyu mengatakan:

    Gak bisa ngomong…

  14. kenmoksha mengatakan:

    jelas lebih kasihan manohara dong….orang si ibu Pritanya dah bebas kok….

  15. Putri mengatakan:

    Dukung bu Prita…!!

    @Kenmoksha
    BU Prita masih berstatus tahanan…hanya saja sekarang tahanan kota, makanya bisa keluar dari penjara

  16. tHalia mengatakan:

    saya sangat mendukung ibu pritta.
    tuntut balik omxx..
    karena sudah merampas hak asasi ibu pritta

  17. Emily mengatakan:

    Kalau saya sih Ibu prita ya, apalagi anak2nya masih kecil. Kalau manohara, selama dia bisa membuktikan dengan visum, kita dukung kok. Saat ini kan manohara masih belum pasti, dan belum banyak bukti, mari kita lihat saja perkembangannya.

  18. ardiaza mengatakan:

    tadi pagi di tv one di apa kabar indonesia pagi di datangkan ibu dirut utamanya RS OMNI INTERNATIONAL..ada pertanyaan untuk dirutnya yang kebetulan seorang ibu dokter dari Pembawa acara yg menggugah saya, sebelum kasus prita ini apakah ada keluh kesah atau ketidakpuasan terhadap layanan RS di media? Ibu itu menjawab tidak ada yang ada adalah keluh kesah itu biaasanya disampaikan pada kotak pos pelanggan yang ada pada rumah sakit..Aneh..ternyata ada juga di media lain y dan mereka tidak seperti Ibu Prita nasibnya..aneh..sungguh aneh..

  19. ashartanjung mengatakan:

    Dua duanya perlu perhatian
    By writer of Hajji Book:
    40 Hari Di Tanah Suci
    Thank you

  20. Ati Budiluhur mengatakan:

    Saya yang bekerja di bidang medis berpendapat bahwa kadang ada pasien yang menuntut lebih dan nggak selesai2 dalam pelayanan walaupun telah diberikan pelayanan yang baik. Tapi heran juga sampai ada pasien yang hingga di penjara karena komplain. Mungkin pihak rumah sakit perlu pandai-pandai menanggapi pasien yang seperti Bu Prita…

  21. Ati Budiluhur mengatakan:

    Saya yang bekerja di bidang medis berpendapat bahwa kadang ada pasien yang menuntut lebih dan nggak selesai2 dalam pelayanan walaupun telah diberikan pelayanan yang baik. Tapi heran juga sampai ada pasien yang hingga di penjara karena komplain. Pihak rumah sakit perlu pandai nih untuk menghadapi pasien yang cenderung ‘menuntut’ lebih dibanding pasien lain.

  22. wilman tambunan mengatakan:

    Saya dukung ibu prita 100%, karena saya sendiri pernah mengalami kejadian yang sama. berita di kompas tentang Ambulance RS OMNI tidak mau melayani menyebabkan adik saya meninggal, bahkan menagih biaya kamar jenazah padahal adik saya meninggal di RS Harapan kita. Tutup saja RS itu jika tidak bisa melayani masyarakat

  23. Ono Gosip mengatakan:

    BREAKING NEWS !!!
    TANGGAPAN KEJATI BANTEN ATAS PEMERIKSAAN JAKSA YANG MENUNTUT PRITRA:
    “Kita tidak berbicara siapa yang akan kemudian bertanggung jawab terhadap pembuatan …(BAP),yang penting, tapi siapa yang harus bertanggung jawab mereka yang melakukan tindakan pidana (PRITA). Saya berikan apresiasi kepada jaksa tersebut!!”

  24. Ono Gosip mengatakan:

    HASIL DENGAR PENDAPAT KOMISI IX DPR DGN MANAGEMENT RS OMNI:
    1. KOMISI SEMBILAN TIDAK PUAS DENGAN JAWABAN DARI PIHAK RS OMNI
    2. MENGUSULKAN PENCABUTAN IZIN OPERASIONAL RS OMNI
    3. MENCABUT TUNTUTAN RS OMNI KEPADA PRITA MULYASARI
    4. RS OMNI HARUS MINTA MAAF SECARA TERBUKA KEPADA PRITA MULYASARI

  25. muhajjah mengatakan:

    kalo dokter dan rumah sakit sudah tidak bisa dipercaya, kita mesti berobat kemana?
    ponari?

    mungkin pekerja2 di bidang kesehatan memang sudah letih, tapi nggak segitunya juga x…
    kanapa nggak ngaku salah dan minta maaf, trus perbaiki biar nggak keulang….

    saya dukung keduanya.
    toh nasib manohara mirip TKW2 disana, hanya dia lebih beruntung…

  26. Ruhit Sitompel mengatakan:

    Yang jelas kasus Bu Prita lebih mengundang simpatik

  27. Hotman Peres mengatakan:

    Saya menyesalkan RS Omni yang tidak profesional
    saking sekarang ini saya lagi ngebelain manohara, kalo gak gitu saya mau bantu you punya perkara, tapi you kan dah di back up OC kaligis, OC kaligis emeng Oceeee….!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pelongok

  • 217,543 Kepala

Ziddu

Juni 2009
M S S R K J S
« Mei   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
%d blogger menyukai ini: