Beranda » catatan kecil » Era Banjir Informasi, Tidak Tahu Lagi Darimana Menulis Bermula

Era Banjir Informasi, Tidak Tahu Lagi Darimana Menulis Bermula

Di bulan Juni ini saya sudah memposting 4 tulisan, dua tulisan tentang Prita, satu tulisan tentang tulisan yang hilang dan tulisan tidak penting. Tapi terakhir saya menulis hari Rabu lalu, jadi sudah libur dua hari. Mungkin tidak terlalu lama, tapi saya sudah melanggar disiplin tidak tertulis bahwa saya akan menulis minimal satu setiap hari. Apakah tidak ada ide?

draft38Ada, terlalu banyak malah, tetapi suatu ide perlu sebuah kaki (kata-kata siapa saya lupa), perlu pergumulan dengan hati dan otak, perlu data-data, dan perlu mencari ceruk yang belum digali penulis lain, sehingga tulisan kita meskipun temanya serupa tetapi ada keunikan tersendiri yang tidak dijumpai pada sejenisnya. Untuk kasus Prita Mulyasari misalnya, saya sudah menyiapkan beberapa judul seperti: Andaikata Saya Direktur RS Omni, Andaikata Saya Prita Mulyasari, Prita Mulyasari dan Kekuatan Internet, Prita Mulyasari dan Masa Depan UU ITE, Percakapan Imajiner Prita Mulyasari dengan Anak-anaknya. Untuk kasus Manohara sudah ada di kepala judul Manohara: Drama Tujuh Babak. Untuk musim kampanye capres cawapres sudah ada di kepala judul: Darah Itu Merah, Jenderal. Belum lagi 38 draft tulisan yang sebagian besar sudah hilang kehangatannya.

Namun ketika mencari data tambahan di internet, melihat begitu banyaknya informasi yang tersedia, saya justru neg alias wareg campur kheki campur hampir muntah. Apakah serbuan informasi seperti itu yang saya butuhkan? Apakah sebaran data tersebut betul-betul saya perlukan? Apakah mengetahui sesuatu yang tadinya tersembunyi akan menambah kearifan kita (halah), kedewasaan kita, kesempurnaan mental dan spiritual kita, dan akhirnya menjadikan mutu kita sebagai manusia menjadi lebih baik didepan manusia dan Tuhan?

Karena ada kalanya, tidak mengetahui lebih menguntungkan daripada mengetahui. Mengetahui yang tidak perlu kita ketahui kadang justru menjerumuskan kita pada kesulitan yang tidak terbayangkan. Sebaliknya, tidak mengetahui apa yang seharusnya kita ketahui lebih membahayakan, lebih besar risikonya. Kenali musuhmu, kata Sun Tzu. Tapi kenali dirimu sendiri dulu, kata Aristoteles.

Jadi, sekarang saya harus lebih disiplin untuk selektif memilih mana informasi yang harus digali sedalam-dalamnya, mana yang cukup sekilas saja, mana yang harus saya lewatkan, bahkan kalo perlu mana yang harus saya buang. Daripada menuh-menuhin hard disk otak yang ga seberapa GB ini, lebih baik buang sampah-sampah file yang ga diperlukan.


3 Komentar

  1. sakainget mengatakan:

    semuanya sy percayakan sama Anda saja lah😀

  2. cahayasura mengatakan:

    @sakainget
    sama dong, hehehe🙂

  3. sunarnosahlan mengatakan:

    semoga tetap setia menulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pelongok

  • 217,688 Kepala

Ziddu

Juni 2009
M S S R K J S
« Mei   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
%d blogger menyukai ini: