Beranda » catatan kecil » Roy dan MOS

Roy dan MOS

Ini berita kemarin sore, yaitu Roy Aditya, siswa baru SMA Negeri 16 Surabaya, meninggal saat mengikuti masa orientasi siswa alias MOS. Dari berita disini, sebetulnya saya ga membaca adanya kekerasan fisik ala STPDN atau tentara beneran. Lalu mengapa Roy meninggal? Ibunya bilang Roy takut dipukul seniornya karena tidak membawa kayu bakar. Apakah betul seniornya memukul Roy? Dalam berita itu, tidak ada, Roy tiba-tiba pingsan saat menyaksikan teman-temannya sedang mempersiapkan upacara penutupan. Ia lalu dibawa ke UKS, lalu ke RS Jemur sari dan akhirnya dinyatakan meninggal dunia. Penyebab persis kematiannya sedang diusut oleh tim RSUD Dr Sutomo dengan melakukan otopsi.

Dari pengalaman saya ikut MOS dan Opspek di sekolah dan kuliahan, sebetulnya kegiatan fisik dan mental yang saya ikuti asik-asik aja tuh. Memang ada kontak fisik, penggemblengan mental, lari-lari, makan serba diatur dan dijadwal, hukuman push up yang entah berapa puluh kali, mandi di air dingin, belum caci maki para senior. Dan puncaknya ketika pelantikan, wah, ada pelantikan palsu segala. Senior sudah minta maaf, sudah saling berangkulan. Eh, pas pelantikan aslinya para senior keluar keganasannya lagi.

Memang MOS dan Opspek dulu mendebarkan dan bikin jantung dag dig dug. Tapi setelahnya, kok jadi kenal ama senior, biarpun kenalnya rada gimana gitu.

Tapi karena sudah banyak korban tewas yang berjatuhan, memang soal MOS dan Opspek ini perlu ditertibkan. Departemen Pendidikan Nasional perlu membuat aturan tentang boleh dan tidaknya. Kalau tidak boleh, apa alasannya dan apa kegiatan alternatif untuk menyambut murid-murid baru ini. Plus, tentu saja sanksi bila ada kepala sekolah atau OSIS yang melanggar peraturan.

Kalau boleh, apa rambu-rambu yang bisa dilaksanakan dan yang tidak bisa. Misal: tidak boleh kontak fisik, tidak boleh bentak-bentak, tidak boleh menimbulkan trauma, tidak boleh ada hukuman yang berat, dsb. Yang boleh: boleh memberi tugas yang ringan-ringan, boleh menceramahi, dll (apa nanti muridnya malah jadi nglokro ya?). Satu lagi, kalo mengenalkan suatu sekolah, tentu yang lebih tahu adalah guru-gurunya, kepala sekolah, masyarakat sekitar, komite, tukang kebon, penjaga, tukang warung, dll. Bukan para senior yang baru 1-2 tahun menjadi murid disitu. Tul kan?


3 Komentar

  1. WANDI thok mengatakan:

    Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uuun. Ikut prihatin mas. Tapi nyang namanya mati kalo memang sudah jatah ya nggak bisa di undur ajukan to. Anggap saja MOS itu hanya jalaran. tapi keterlaluan itu modele MOS. Aku icut mengutuk ya. Kadzabta wahai MOSMA 16 SBY

  2. WANDI thok mengatakan:

    Mendingan :
    1. MOSnya dibubarken selamanya, ato
    2. Tetep ada MOS, namun cuman kegiatan ringan, non fisik.

  3. maseta mengatakan:

    halo met malem…gak bisa tidur nih jadi blog walking aja…happy blogging

    -> WordPress Application for Blackberry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pelongok

  • 217,543 Kepala

Ziddu

Juli 2009
M S S R K J S
« Jun   Okt »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
%d blogger menyukai ini: