Beranda » catatan kecil » Bom dan Energi Positif Itu

Bom dan Energi Positif Itu

Arsenal, di awal musim 2007-2008 kehilangan ikon sekaligus kapten plus pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah klub, Thierry Henry. Setahun sebelumnya ia menjejakkan kaki di final Liga Champions di kampung kelahirannya, Prancis. Sayang Arsenal hanya menjadi runner up setelah dikalahkan Barcelona. Itulah kekesalannya yang paling besar. Sebagai pesepakbola profesional, ia sudah meraih gelar juara liga, juara piala FA, piala eropa bahkan juara dunia. Tapi belum sebagai juara liga champions.

Ditinggalkan sang raja memang suatu kehilangan besar bagi Arsenal. Tapi apakah Arsene Wenger dan yang lainnya menyerah dan meratapi nasib? Tidak. Mereka justru mengamuk di paruh pertama musim 2007-2008. Adebayor lebih banyak mencetak gol, Hleb dan Flamini menjadi pemain sayap yang garang dan efektif, Fabregas menjadi lebih kreatif. Memang mereka tidak menjadi juara di akhir musim, tapi para pemainnya lebih percaya diri dan permainan klub lebih hidup, tidak lagi tergantung pada keberadaan seorang pemain kunci.

Ketika Jepang sukses menyerang Pearl Harbour di awal perang dunia 2, sang komandan Jepang di tengah suka cita anak buahnya justru menyimpan kecemasan. “Mungkin kita justru sedang membangunkan macan tidur”, bisiknya. Benar, Amerika yang sebelumnya enggan melibatkan dalam huru hara itu akhirnya terseret arus dan hasil akhirnya kita ketahui bersama: jepang kalah.

Tetapi it belum berakhir. JEpang memang kalah, dihujani bom nuklir dua kali, kehilangan ratusan ribu prajurit dan rakyat sipil, menderita kerugian material tak terhitung serta kekalahan mental paling besar. Apakah mereka lantas menyerah? Tidak. Sekarang buktinya: mereka kin menguasai perekonomian dan teknologi, bahkan dalam banyak hal melampaui pencapaian amerika sendiri.

Mungkin itu yang disebut blessing in disguise, suatu keberuntungan yang datang justru setelah datang kemalangan. Seperti yang kita rasakan sekarang ini. Setelah bertahun-tahun aman dari serangan bom, tiba-tiba jumat pagi lalu, 17-07-2009, hotel JW Mariott dan Ritz Carlton diguncang bom. Sembilan tewas dan puluhan luka-luka.

Kejadian itu melukai kita. Baru saja menganga luka itu, siangnya dalam jumpa pers, SBY memberikan pidato yang justru semakin menambah luka. Ada beberapa kalimat yang menurut banyak orang tidak pantas diucapkan oleh seorang presiden. Beberapa tanggapan kritis atas pidato presiden bisa dibaca disini dan disini.

Beberapa orang menyamakan pidato SBY dengan pidato George Bush sesaat setelah WTC diruntuhkan teroris. Cerita selanjutnya kita sudah tahu.

Namun yang sungguh menggembirakan adalah tanggapan ‘orang-orang’ yang disentil SBY. Orang-orang disini harus diberi tanda petik, karena SBY tidak menyebut nama. Namun karena masih dalam suasana pilpres, pikiran liar orang akan mudah mengarahkannya pada dua pasang kompetitornya, yaitu pasangan Jusuf Kalla-Wiranto dan Megawati-Prabowo.

Prabowo bilang, “Kita perlu bersikap positiflah, tidak perlu kontroversi. Bisa saja ada beberapa orang yang sangat ekstrim, semua di negara di dunia kesulitan mengatasi orang-orang seperti ini. Kita harus waspada.” Ia juga siap sowan kepada SBY untuk mengklarifikasi posisinya dan agar masyarakat tidak saling menduga-duga.

Tidak kalah positifnya adalah komentar para korban. Yusuf Purnomo misalnya, seorang pegawai restoran Airlangga Hotel Ritz-Carlton yang terluka dan masih dirawat di RS Metropolitan Medical Centre memberikan komentar yang menyejukkan. “Mau kesal sama siapa, mau marah sama siapa, pasrah saja. Namanya juga musibah. Saya juga yakin, jika para teroris tahu kalau sakitnya seperti ini, pasti mereka tidak akan melakukannya,” kata Yusuf dengan tersenyum.

Bahkan seorang keluarga korban yang meninggal juga bersikap positif. Evert Mocodampis (33 tahun) adalah korban meninggal di Marriott. Ayahnya, Victor Mocodampis, mengaku sudah memaafkan sang pelaku.
“Saya sudah mengasihi dan mengampuni dia (pelaku). Jangan balas kejahatan dengan kejahatan, tapi balas dengan kebaikan. Jangan simpan kemarahan sampai matahari terbenam,” ujar Victor.

Maaf, tetapi saya harus bilang, bahwa sikap para korban, yaitu Yusuf dan Victor dan juga sikap Prabowo lebih mendinginkan dan membesarkan hati daripada pernyataan SBY. Justru sikap-sikap seperti itu yang harus ditularkan dan diteladani. Bukan sikap menuduh setelah menuduh atau menyebarkan gosip setelah bilang jangan menyebarkan rumor.

Apapun itu, SBY adalah presiden kita saat ini dan mungkin lima tahun mendatang. Menghadapi tantangan terorisme yang tidak juga mati-mati, wajar kalau beliau marah. Tetapi kemarahan tidak menyelesaikan masalah dan kecengengan malah membuat masalah lebih besar lagi. Para staf dan pembisik di sekitar beliaulah yang harusnya diseleksi dan tahu diri, agar tidak semakin menjerumuskan presiden ke dalam situasi yang ruwet karena kebodohan diri sendiri.

Para staf SBY harus belajar dari Victor dan Yusuf. Setelah jumat pagi itu, kehidupan mereka berubah. Mereka terluka, tetapi mereka mengirim pesan yang menguatkan tidak hanya diri sendiri dan keluarga, tapi juga para korban lain dan masyarakat Indonesia.

Dan jangan lupa, hari ini masih dalam suasana isro mi’roj. Seperti yang kita tahu, hari-hari sebelum perjalanan bersejarah itu adalah hari-hari kelabu bagi Nabi Muhammad saw. Beliau kehilangan Khadijah isterinya dan pamannya Abu Thalib. Khadijah tidak akan tergantikan perannya di sisi Nabi, telah mendampingi beliau selama 28 tahun sejak berumur 25 tahun. Selama masa itulah Nabi hanya bermonogami. Khadijah beriman ketika orang lain mendustakannya, memberikan harta ketika orang lain menahannya. Sedangkan Abu Thalib meski tidak sefaham dengan Nabi tetapi beliaulah yang selalu melindungi Nabi dari cercaan dan gangguan kaumnya. Kesedihan Nabi lantas dihibur Allah dengan mengundangnya ke sidratul muntaha untuk menerima perintah shalat. Sungguh, itu hiburan yang paling menghibur.

Berkali-kali diguncang bom membuat masyarakat kita justru semakin kuat dan percaya diri. Setelah peristiwa jumat itu, ternyata rakyat tidak takut untuk bepergian dan berkegiatan. Pusat-pusat perbelanjaan tetap ramai, tempat wisata akhir pekan tetap buka, dan jalanan tetap macet. Kalau tujuan pengebom adalah menimbulkan ketakutan pada rakyat, itu tidak terjadi.

Namun, harus dicatat baik-baik: sudah selayaknya kita berfikir ulang, apakah kegiatan kita itu memang harus dan layak dilakukan? Maksudnya, apakah memang kita tidak takut melakukan kegiatan meski negatif walaupun nyawa taruhannya? Apakah kita tidak takut berbelanja meski nyawa taruhannya? Karena, seperti kita tahu, kebanyakan kegiatan kita adalah tidak produktif. KAlao tetap bekerja, itu bagus, tetapi kalo tetap berperilaku kontra produktif, wah, itu yang harus dihindari, ada atau tidak ada bom.

Jadi, kalo kita ingin menjadikan peristiwa bom itu sebagai momentum kebangkitan, sederhana saja: sikapi dengan bijak, jangan sebarkan isu yang semakin membuyarkan masalah, lebih baik menahan diri untuk tidak berkomentar yang tidak perlu, meninggalkan kebiasaan yang buruk, semakin produktif, tidak takut untuk berbuat benar dan saling menguatkan sebagai entitas sosial. Dengan sikap-sikap seperti itu, insya Allah persoalan bangsa ini sedikit demi sedikit mudah-mudahan terurai dan terselesaikan.

Jadi, selamat menjemput hikmah jumat pagi dan peristiwa isro mi’roj.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pelongok

  • 217,543 Kepala

Ziddu

Juli 2009
M S S R K J S
« Jun   Okt »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
%d blogger menyukai ini: