Beranda » catatan kecil » Masih Ada Daging di Lemari Kami

Masih Ada Daging di Lemari Kami

Ya, hari ini H+7, hari ketujuh setelah Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada Jumat 27 November lalu. Lebih tepatnya, sekarang tanggal 17 Dzulhijjah 1430. Dan masih ada sisa daging kurban di lemari kami.

Kami warga RT 13 RW 04 Tegal Rayung Pelem Simo Boyolali hari Jumat lalu setelah melaksanakan sholat Id di SMA N 1 Simo segera menyelenggarakan penyembelihan hewan kurban. Tahun ini lebih banyak daripada tahun kemarin. Kalo kemarin hanya 2 ekor sapi dan 4 ekor kambing, sekarang 3 ekor sapi dan 5 ekor kambing. Itu rekor kami seingat saya. Ato malah mungkin rekor terbanyak kurban se-erte sekecamatan Simo. Namun yang kami sembelih sapinya saja, kambing-kambing kami distribusikan hidup-hidup ke Weru, Tegal Rejo, Ngrisik, Grintingan dan Gunung.

Walo ada insiden sedikit, tetapi kami sukses menyembelih sapi. Jagalnya mbah Ahmad Jumirin, warga kami juga. Tempatnya di depan rumah almarhum mbah Parto yang sudah dirubuhkan dan tinggal temboknya saja. Anak-anak mbah Parto sudah berkeluarga semua dan punya rumah sendiri-sendiri. Kebetulan rumah beliau persis di depan masjid, hanya berseberangan jalan.

Pengulitan dan pengeratan daging berlangsung sukses juga. Hanya ada insiden kecil, ketika jari Lik Peno teriris dan mengeluarkan darah cukup banyak. Ia langsung berhenti. Aku juga. Dan semua laki-laki, karena waktu sudah menjelang Dhuhur. Ini hari Jumat, kami harus melaksanakan shalat Jumat. Karena pengeratan belum selesai, ibu-ibu yang melanjutkan.

Sekitar ashar pengeratan dan pembagian sudah selesai, dimasukkan dalam kantong plastik. Ada sekitar 50-an kepala keluarga di RT kami. Semuanya kebagian.

Jadi sebenarnya pembagiannya begini: pertama, yang berkurban diberi dulu bagiannya, termasuk yang berkurban kambing dan disumbangkan ke daerah lain, tetap mendapat bagian meski dari daging sapi. kedua, seluruh kepala keluarga mendapat bagian. ketiga, baru seluruh panitia mendapat bagian. Dari kategori pertama rumah kami kebagian dua porsi, karena David dan Hervid berkurban kambing. Dari kategori kedua kami mendapat tiga porsi, karena ada tiga kepala keluarga di rumah kami. Dari kategori ketiga kami mendapat dua porsi (aku dan Harman). Jadi kami mendapat tujuh kantong. Sekantong beratnya satu kilo lebih.

Bagaimana kami menikmatinya mungkin sama dengan keluarga lain. Disate, digoreng, digule bahkan dibumbui ala kadarnya. Dan hari Ahad lalu kami sukses menyelenggarakan hari mencret nasional, meski dengan alasan yang tidak sama: ada yang tidak makan nasi tetap mencret, yang tidak makan daging tetap mencret, yang tidak makan sayur tetap mencret, yang tidak makan siang juga mencret, yang tidak makan malam juga mencret. Kesimpulannya: semuanya menyebabkan mencret, entah skalanya besar ato kecil.

Jadi, hari ini, masih ada daging di lemari kami. Beratnya mungkin ada 3-4 kilo. Tahun lalu kalo tidak salah bertahan hingga dua minggu. Sekarang tidak tahu. Semoga yang mengurbankan hartanya untuk berkurban tetap dilimpahi ampunan dari Allah dan yang menerima diberi berkah dan rasa syukur. Amien.


2 Komentar

  1. sunarnosahlan mengatakan:

    Tegal Rayung Mas?
    Saya dari Nglembu

  2. Sobar Hartini mengatakan:

    Semua kebagian? Emang ke 50 kk itu termasuk yg faqir miskin?? Dulu pernah aku kurban di kampung, tp kurang sreg sebab semua kebagian, yg kaya n sering mkn daging jg kebagian; jadi porsinya dikiiit banget, yg penting merata. So, kami berkurban di kampung halaman orang lain, di sebuah desa binaan YIP, tepatnya di Peundeuy Sancang garut selatan. “Baranang siang” YIP punya kebijakan berdasarkan AQ n hadist, jd yg kebagian sesuai dgn ketetapan syariat. Berhubung, miskin semua, desa tandus n terbelakang, dgn anak2 yg otaknya kucurigai memiliki “blackhole” (sbb lulusan SMP ngga ngerti 1 kg itu = berapa gram, ngga tau dia ada di pulau mana; ngga tau jumlah ayat AQ, ngga bs menyebutkan 5 sila dlm Pancasila dll; yg ngerjain UAN gurunya, anak2 nyontek walhasil lulus 100%) maka potong kurban selalu di sana; berharap tahun depan bisa ikut menyaksikan tdk sekadar menyaksikan via internet;)

    Anyway, asyik jg bc tulisanmu. Apakabar Nurum? Kerja di mana skarang?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pelongok

  • 217,688 Kepala

Ziddu

Desember 2009
M S S R K J S
« Okt   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
%d blogger menyukai ini: